25 April 2009

Sepenggal Galah Bambu

Dan ketika senja itu ditepis malam.. bisikan angin menyapa
dalam hampa diantara sepinya jagad raya, berselimut gelap

mencekam, menambah nelangsa, membumbui derita
aku tersadar dari realita tak berujung

disebelahku pertentangan paradigma dan ideologi
dibelakangku saling melempar, dan menyeru "Kambing Hitam"

Kucoba melompati mimpi-mimpi idealisme... aku tak mau lari, mungkin hanya melompat
Tapi apa ini ? ? ? apa ini ditanganku ? ? ?

aku "Pengangguran Menulis Mimpi"
dengan menggenggam sepenggal galah bambu, . . . kutopang diri bepijak dengan kedua kaki diatas bumi...

aku tak mau menjadi palsu, dan "Maaf", aku bukan boneka "Bapak"
dan ketika semua kembali lagi, seperti harmoni siklus yang samar, Pagi datang lagi . . .

( Sepenggal Galah Bambu )

21 April 2009

Penawaran Promosi Untuk Blogger

Setelah sekian lama 369shop berkiprah di dunia online dengan bermodalkan blog gratisan, mungkin sekaranglah saatnya kami memberikan penghargaan dan ucapan terima kasih dengan menawarkan sedikit keringanan untuk teman - teman blogger dengan memberikan potongan harga khusus terhadap beberapa item barang, adapun barang yang kami berikan potongan harga tersebut adalah :










Konfirmasi harga Hub : Dhani ( 0511 6154422 - 0852 48727404 - 0819 53400454 )


ADA YANG LEBIH MENARIK LAGI, KHUSUS UNTUK PENGGUNA


( Blogspot )

Mendapat Dobel Potongan Harga


369shop mengucapkan terima kasih kepada seluruh teman - teman blogger di Banjarmasin dan sekitarnya, serta seluruh Indonesia atas dukungannya selama ini, dan dalam kesempatan ini pula kami memohon do'a dari seluruh teman - teman untuk rencana ekspansi unit usaha 369shop yang direncanakan akan melebar ke sektor Jasa Pengiriman Barang melalui darat, melayani rute KALSEL - KALTENG, Terima Kasih







15 April 2009

Dokter Yusuf & Gadis Berkerudung Biru ( Peduli Kanker )

Manis senyumnya masih terpatri di benak Yusuf. Dialah dara berkerudung dari kampung sebelah yang senantiasa menghantui Yusuf, Aisyah namanya, tutur katanya yang santun, sikapnya yang anggun, sungguh pesona itu melumatkan hati kaum Adam yang berjumpa dengannya.

Waktu menunjukan pukul 23.30, terdengar jelas detak jarum jam yang menempel di dinding kamar kost Yusuf, terlihat beberapa cicak berkejar-kejaran di langit-langit kamarnya, sesaat Yusuf mulai meneteskan air mata.

Lima tahun yang lalu, tepatnya saat Yusuf dan Aisyah bersekolah di kampungnya, di sebuah Madrasah Aliyah Negeri yang terletak di pinggiran kampung, masa remaja mereka yang terbalut nuansa syahdu itu adalah masa terindah bagi Yusuf.

Hari demi hari mereka lalui dengan beragam kegiatan positif, mengikuti pengajian rutin di Musholla dan mengajar anak-anak mengaji, meskipun tak pernah terucap, namun di hati mereka tersimpan rasa cinta yang begitu dalam, entah seberapa dalamnya, bahkan mungkin untuk menyelaminya perlu waktu satu tahun cinta.

Kamis pagi setelah mata pelajaran olah raga, tanpa sebab yang pasti Aisyah jatuh pingsan, setengah sekolah gempar dan bertanya apa yang sebenarnya terjadi padanya, maklumlah kejadian serupa sangat jarang terjadi di sekolah itu, selain itu rasa kekeluargaan yang begitu kental juga merupakan faktor yang cukup dominan mempengaruhi, mungkin rasa seperti itu sudah sangat jarang kita temui di kota.

Di kelas tampak Yusuf sangat gelisah memikirkan sesuatu yang terjadi pada Aisyah, ritme jantungnya semakin lama semakin kencang, suara detak itu mungkin sekencang beduk yang berdentum dalam lomba takbiran malam lebaran.

Ribuan tarikan nafas panjang telah dilakukan Yusuf untuk menenangkan diri, namun itu tak memberikan ketenangan sedikitpun, bahkan kini seluruh ruang di otak Yusuf telah dipenuhi sejuta gambaran kemungkinan yang terjadi pada Aisyah.

Teng teng teng begitu bel akhir sekolah berbunyi, Yusuf secepat kilat memacu sepeda tua warisan kakeknya menyusuri jalan setapak menuju rumahnya, begitu sampai di rumah, dengan serta merta dia berganti pakaian, kemudian di kayuhnya lagi pedal sepeda itu sekuat tenaga laksana seorang pembalap dunia yang membela reputasi negaranya di lintasan sirkuit waktu tak berujung.

Disandarkannya sepeda tua itu pada sebatang pohon jambu di pekarangan rumah Aisyah. Masih terlintas kenangan masa kanak-kanak Yusuf dulu ketika dia terjatuh dari pohon itu karena digigit semut demi untuk mengambilkan buah jambu untuk Aisyah.

"Assalamualaikum" ucap Yusuf tatkala dirinya tiba di pintu rumah Aisyah yang reot,
"Wa'alaikum salam", sahutan parau dari ayah Aisyah menimpali.

Begitu masuk dan dipersilakan duduk, tanpa basa basi Yusuf menanyakan apa sebenarnya yang menimpa Aisyah, tapi Yusuf tak mendapat jawaban yang memuaskan, yang mereka tahu hanyalah beberapa hari terakhir Aisyah mengeluh sakit pada bagian kepalanya, ada benjolan di bagian belakang kepalanya, ibunya menuturkan. Tampak di salah satu sudut ruangan Aisyah terbaring tak berdaya, lemah seakan kehilangan sepertiga nyawanya, rintihannya lirih mengiris kalbu, terasa begitu sakitnya derita yang dialami Aisyah, sungguh memilukan dan tragis, hati Yusuf seakan hancur menyaksikan sang dara terkasih tersiksa, maklumlah keluarga Aisyah tergolong miskin di kampung tersebut ditambah lagi jauhnya jarak ke kota terdekat yang memakan waktu sepuluh jam perjalanan dengan kendaraan bermotor.

Seminggu setelah hari tersebut akhirnya diketahui apa sebenarnya telah menimpa Aisyah. Informasi tersebut disampaikan oleh seorang dokter dari kota, anak salah satu penduduk kampung yang kebetulan sedang mengunjungi orang tuanya, Kanker.
Tak terbendung lagi kesedihan bagi Yusuf, rasanya kenyataan itu terlalu berat untuk diterimanya, belum lagi berjuta mimpi Aisyah yang pernah disampaikan pada Yusuf harus pupus, hilang seperti asap yang terbawa angin sore.

Tubuh putih mulus itu kini kurus kering, matanya semakin sayu, suara indahnya kini hanya terdengar sayup-sayup, tak sanggup rasanya Yusuf menyaksikan keadaan perempuan terkasihnya itu, tak ada yang bisa dilakukan keluarga dan para tetangga, hanya doa dan obat-obatan tradisional yang bisa mereka berikan. Bahkan kunjungan dari petugas kesehatan kampung pun hanya bisa pasrah meski sudah segenap kemampuan mereka kerahkan untuk Aisyah. Yusuf kini semakin kurus, raganya kini seperti ikut merasakan derita yang dialami sang gadis berkerudung biru itu.

Di tengah terik matahari siang itu pak Amin dan Ridwan tengah sibuk menggali, mereka mempersiapkan lubang 2 x 1 meter untuk tempat beristirahatnya Aisyah, minggu malam tadi Aisyah dijemput Yang Maha Kuasa, kanker itu telah menyelimuti hari-hari terakhir hidup Aisyah, hal ini pula yang membekas dalam jalan hidup Yusuf. Tangisnya hari itu seperti sebuah pelampiasan kekesalan berkepanjangan pada keterbatasan dan kemiskinan yang mencekik sebagian orang di dunia, Yusuf bertekad untuk bisa menjadi dokter demi bisa membantu sesama dan membayar pengorbanan Aisyah, cintanya yang kini terbalut kafan putih seputih awan siang itu.

+II+

Pukul 03.45 pagi, Yusuf menangis, kini dirinya sedang mencoba meraih mimpi untuk menjadi seorang dokter. Kanker yang merebut Aisyah darinya telah memacu motivasi besar baginya. untuk menjadi seorang dokter. Dia ingin mengabdikan diri melawan penyakit itu, menolong kaum miskin, menghancurkan sekat keterbatasan dan kemiskinan. Dan kini dia telah sukses menjalani studinya, dialah dokter muda baik hati yang ramah, Dia dokter Yusuf.

Oleh : Dhani_Yadi ( Pengangguran Menulis Mimpi )

Kupersembahkan tulisan ini . . .

Untuk mereka yang telah meninggal direnggut kanker

Untuk mereka para Dokter yang bersedia membantu kaum tak mampu

Untuk kekasihku tercinta yang senantiasa memberi semangat dan cinta untuk-ku ( 90 )

Untuk seluruh keluargaku, khususnya kedua orang tuaku tersayang