30 November 2008

Suara Deru Cinta

Ketika deru sahaja rindu menerpa
Diantara relung hati sembilu benci
Teman sepi dilema mimpi...
Mencari...tapi tak ada.
Kemudian menari datang bersama metafora hati
Apa itu suara cinta
Terdengar lirih menabuh rasa
Anginnya sejuk bagai telaga surga
Dan matahari mulai melirik
Sembari bercengkrama dengan mega yang riang
Suara deru cinta
Untuk hati yang lembut
Untuk sebuah paras yang santun
Untuk senyum yang indah
Tak akan meninggalkan, selalu terkenang
Semua hanya untuk satu nama
Untuk sesosok diva ****

22 November 2008

Sakit Jiwa "Sudirman"

Kadang semua orang takut kepadanya... Dialah Sudirman.,namanya adalah nama seorang jendral yang berjasa untuk Indonesia... Sudirman yang ini pun berjasa untuk desanya... Dia mantan petugas kecamatan yang telah berjasa mengubah sistem "sikat APBD" menjadi produktif..., sebagian dari saudara mungkin bingung apa itu sikat APBD. Itu adalah sebuah metode untuk melahap uang APBD, dengan membuat kegiatan fiktif yang tidak pernah direalisasikan, dan uangnya dibagi-bagi... Dan semuanya berubah oleh Sudirman.. kebobrokan sistem yang sudah bukan rahasia umum itu dilawan oleh Sudirman. Seorang pemuda bergelar "Sakit Jiwa", karena dianggap menolak "rejeki" ketika diajak berbagi uang, yg jelas dan pasti bahwa uang tersebut "haram", Sudirman malu kepada jasad-jasad yang terbujur kaku di taman makam pahlawan yang telah rela menukar nyawanya dengan sebuah kemerdekaan. Dia tidak ingin jasa Pahlawan diludahi dengan berlaku tidak jujur dengan membenarkan tindakan "sikat APBD" tersebut. Apalagi bayangan api neraka yang selalu direkamnya dalam otak akan menjadi nyata jika dia bergabung dengan mereka.. Mereka menghisap darah saudara mereka.. Mereka meludahi para Pahlawan bangsa.. Mereka orang terpelajar yang tak pernah belajar.. Mereka memalukan... Namaku Sudirman.. Pemuda Miskin tak terpandang.. Aku bangkit untuk menentang.. Aku menyerang dengan iman.. Ditanganku kucengkram keserakahan.. Lupakah mereka ketika mereka bertanya saat anak - anak mereka menjadi bodoh dan pembangkang? Sungguh uang haram yang mereka gunakan untuk memberi makan keluarga mereka adalah sebab utama untuk secuil akibat diantara akibat lain yang akan menyusul datang... (by : Pengangguran Menulis Mimpi)

19 November 2008

LELAKI ITU PAK IMAN

Slurp . . . mulut pak Iman menyeruput segelas kopi, sambil duduk di beranda rumahnya sore itu. Kebiasaan yang dilakukan oleh pak Iman setiap harinya apabila tidak ada kesibukan, bukan berarti pak Iman ingin “cuci mata” memandangi abg - abg cewek di kompleks perumahannya yang menurut penulis cukup “wah” ( tapi penulis tidak sampai ngiler lo waktu bilang wah - nya ), pak Iman duduk dengan ditemani sarapan paginya yang masih tersisa ( maksudnya koran pagi tadi yang belum selesai dibacanya ), sesekali dia mengucap istighfar melihat berita - berita di koran itu.
Penulis yang dari tadi hanya duduk mengamati aktivitas beliau, mencoba memberanikan diri untuk bertanya menggunakan lidah yang pendek ini, “pak Iman, bolehlah ulun betakun,”lalu pak Iman menyahut sambil sedikit bercanda untuk mencairkan suasana kaku diantara kami “bolehai , tapi aku kada bajanji kawa manjawablah,” penulis pun terdiam berdehem sebelum bertanya, maklum itulah teknik lama yang sering dipakai untuk menghilangkan gugup dan malu, “anu, ulun handak betakun resep hidup pian, soalnya ulun nang anum wan bungul ni kagum banar lawan pian, pian urangnya alim, pejabt nang baik waktu masih menjabat dahulu, keluarga pian harmonis, anak pian bahasil wan alim lawan pintar sabarataan ( dalam hati penulis berkata : maka bungas pulang nang babinian ), kira – kira adakah tips wan triknya, soalnya wayah ini ulun ni lagi dalam pencarian arti hidup, sakaligus mencari jalan rejeki halal, soalnya ulun tergolong bubuhan PKK alias Pengangguran Kada Kakaruan, bihanu jua jadi PNS atawa Pencari Nafkah Serabutan,” kemudian setelah mendengar pertanyaan dari penulis, pak Iman menjawab, ”sabujurnya ikam talalu balabihan Dhan ( panggilan penulis : Dhani ) manilai aku, akuni biasa haja, sama haja wan urang lain, wan abah ikam, wan tetangg atawa wan pejabat – pejabat lain( penulis mengangguk, bukan karena perkataan pak Iman melainkan karena memahmi bahwa inilah tabiat serta sikap seorang yang berilmu dan beriman, selalu rendah hati ) aku nang jelas banar dulu bapasan wan ikam mun handak salamat dunia wan akhirat yaitu berilmu atawa manuntut ilmu, mun handak hidup nyaman jujur, mun ikam handak parajakian bagawi nang rajin jangan kada ingat besadakah, mun handak kaluarga harmonis balajar adil wan lajari kaluarga nang baik, contohakan nang bagus, kaitu Dhan-ae,” “inggih bujur jar pian pak,” penulis pun terdiam, kali ini tidak hanya seribu bahasa tetapi sejuta bahasa, semakin bertambah saja rasanya kekaguman pada pak Iman yang sekarang sudah pensiun dari jabatannya ini, beliau memang panas untuk dicontoh sebagai teladan.
Sungguh semua yang telah disampaikanoleh pak Iman memang terlihat sederhana, tetapi kadang bagi kita sangat sulit untuk mengamalkannya. “Dhan,” pak Iman membuyarkan lamunanku yang mengangkasa, penulis pun tersadar dari lamunan panjang mengingat kealfaan selama hidup 22 tahun telah mengeksplorasi secara gratis nikmat Tuhan, tanpa timbal balik maupun tuntutan pembayaran Fee Kepada-Nya, “inggih, pak, ada apa,” sahut penulis, “aku ada kiat untuk menjadi pejabat bebas korupsi, siapa tahu kaina ikam jadi pejabat, jadi pejabat bujuran lain Pejabat alias Pengangguran Jawa Barat, ” kata pak Iman sambil melontarkan sebuah canda, “inggih pak, pasti handak tahu, apa itu?” penulis pun menimpali,”nang pertama ikam harus ingat wan Tuhan, dimana atau apapun jabatan ikam, gawian ikam, insya Allah barokah, adapun masalah teknisnya yaitu siap dikritik, selalu introspeksi, rajin evaluasi, memperbaiki kesalahan dan berorientasi pada hasil didasari tanggung jawab dalam menjalankan tugas,” ujar pak Iman, penulis terdiam sambil mengingat dalam – dalam nasehat pak Iman. Nasehat dari seorang yang sukses dalam pekerjaanya dan dalam kehidupannya. Ketika masjid di kompleks perumahan tempat pak Iman sudah mulai mengumandangkan lantunan ayat suci Al Qur’an yang syahdu mendayu – dayu menandakan waku sholat maghrib hampir tiba, penulis pun beranjak seraya menjabat dan mencium tangan pak Iman untuk berpamitan pulang, “Assalamu ‘alaikum pak Iman,”. Penulis pun berlalu disertai dengan sahutan “Wa ‘alaikum salam,” oleh pak Iman. Dengan ditemani Shogun hitam putihnya untuk kembali ke rumah, disepanjang jalan penulis terpikir akan sebuah puisi sederhana yang diperuntukan bagi para pejabat yang telah tega mengkhianati kepercayaan rakyat, dengan sebuah kebijakan palsu dan jeratan diplomasi, disertai cekikan permainan politik untuk meraup keuntungan demi kepentingan pribadi, adapun isi puisi tersebut :

SALAMKU UNTUK PEJABAT (“KORUP”)
( Tersinggunglah apabila benar, maka perbaikilah )

Hai pak pejabat terhormat,
Masih layak kah ku beri rasa hormat, ataukah sebiji buah tomat.
Jangan kau beri mereka ”rakyatmu” rumput kering . . .
Rakyat bukan tunggangan, bukan pula kawanan hewan . . .

Mereka mengharap, keadilan dan kepedulian
Kami tak mampu membeli . . . , hidup kami lebih murah dari sebiji ban mobilmu yang bagus itu
Beras kami penuh kutu, tak cukup untuk seminggu, makan seharipun tak tentu
Anak kami menangis ingin susu, tapi kau tak mau tahu

Uang rakyat bukan nikmat untukmu, tapi api yang menyambar, akan membakarmu dari balik mejamu
Ketika kau di hotel mengumbar nafsu, kami tidur disini dengan lentera bintang kelambu awan

Hai pak pejabat, sadarlah sebelum dilaknat, sekarang saatnya untuk tobat,
Profesimu bisa menjadi ladang dosa, jika kau salah didalamnya
Maka dari itu, Jadikanlah Profesimu ladang amal bagimu

Penulis sadar masih banyak pak Iman – pak Iman yang lain,ketika penulis sampai dirumah, adzan maghrib mengumandang. Maka berakhirlah cerita ini, dan penulis siap untuk menjalani kembali hari esok masih sebagai seorang Dhani / Yadi . . . dan Kuliah serta propesi ganda ku, pengangguran, Sekian.
( Ketika tulisan selesai dibuat, sudah adzan subuh, penulis mandi dan siap – siap sholat, sebelum ketiduran nanti, mau ikut? )

DIANTARA PERANG PAMOR ( PAK TUA PENJUAL MAINAN )



“Dipilih, dipilih, dipilih, sayang anak, sayang anak,” kata - kata tersebut dari lisan seorang pak Tua penjual mainan, yang dari pagi hingga matahari tenggelam, menjajakan barang dagangannya, mencoba meraih mimpi meski tak setinggi bintang, demi sesuap nasi dan sehelai harapan, tak jauh darinya berdiri terpampang poster beragam ukurang disepanjang jalan dari partai A sampai Z yang mempromosikan para caleg mereka, bahkan lengkap dengan slogan, jas serta dasi dan senyum sumringah yang sedikit dipaksakan serta titel akademisnya, penulis tersenyum tatkala dalam pikiran penulis mulai bertualang menerobos batas kenyataan dengan memutar balikkan keadaan, membayangkan mereka yang ada dalam foto tersebut menjajakan diri seperti yang dilakoni oleh pak Tua tadi, . . deg – deg jantung penulis pun mulai mempercepat ritmenya guna memompa suplay darah menuju otak, karena otak penulis yang terbatas ilmunya ini mulai berpikir dan menerawang masa depan.
Akankah mereka yang hari ini fotonya terpampang di jembatan, sepanjang jalan, tiang listrik dan tempat strategis lainnya ini akan konsisten dengan janjinya ketika mereka telah terpilih nantinya, akankah mereka bisa membantu saudara – saudara kita yang hari ini bukan hanya memajang foto di jalan melainkan mencari sesuap nasi di jalan, berjuan melawan nasib, diantara deru mesin kendaraan dan sibuknya aktivitas kota tercinta ini. Akh ( penulis menghela napas ) . . . sebagian mungkin berpikir ini kata – kata yang tajam, tapi bagi penulis ini adalah cambuk untuk mereka yang telah memutuskan dan menentukan sikap mengemban dan memperjuangkan aspirasi rakyat, nasib rakyat, agar sepenuhnya melaksanakan tugas , kewajiban dan tanggung jawab , untuk rakyat, untuk sesama, untuk Bangsa ini, bagi para calon caleg yang scara tidak sengaja membaca tulisan seorang pengangguran seperti saya dan merasa terganggu dengan tulisan ini, ketahuilah, . . . inilah seleksi alam, untuk yang kuat dan sanggup serta siap untuk berjuang sepenuh hati dan segenap jiwa raga, akal serta harta, maka majulah, tapi bagi yang masih setengah hati, ini saatnya mundur, ingatlah anda memegang tanggung jawab besar, dan itu akan dipertanggung jawabkan di dunia saja melainkan juga di akhirat. “Mang, Kesini,” suara halus seorang Ibu berusia sekitar 30 tahunan itu terdengar dari sebuah jendela mobil sedan mewah yang sedang berhenti di perempatan itu.
Dengan serta merta pak Tua menghampiri mobil tersebut, “ yang ini berapa Mang,” Ibu itu bertanya, “Rp 15.000,- Bu” sahut pak Tua, sejenak kemudian sang ibu menanyakan persetujuan model mainan itu kepada anaknya yang duduk di samping, kemudian mengambil selembar uang Rp. 50.000,- dari dalam tasnya, “wah kadada angsulannya Bu’ai,” kata pak Tua, “ambil aja gin Mang’ai,” sahut Ibu itu, “ah jang Bu, kebanyakan,” belum habis kata tersebut diucapkan oleh pak Tua, mobil tersebut mulai beranjak karena lampu lalu lintas sudah menunjukan warna hijau, “ terima kasih banyak Bu, semoga murah rezeki,” sambil setengah berteriak dan parau suara itu keluar dari lisan pak Tua, yang kemudian berkali – kali mengucap syukur kepada-Nya, . . . Penulis tertegun, orang dengan mobil semewah itu yang penulis sendiri belum pernah terpikir untuk bisa membelinya, mau membeli mainan dari seorang penjaja mainan Tua, di perempatan jalan, bukan di mall atau pusat perbelanjaan sekelas orang – orang “sugih”, peristiwa yang langka, namun penuh arti, penulis mengerti pantaslah bahwa si Ibu tersebut bisa menjadi seorang yang kaya dengan harta yang melimpah selain dari usaha ikhtiarnya dia adalah orang yang peduli terhadap orang disekitarnya, maka jiwa sosialnya telah menjadi “mesin uang” dari Sang Pencipta yang terus menerus mencetak rezeki untuknya. Beruntunglah Kota ini bila banyak memiliki orang – orang seperti Ibu tersebut. Akhirnya penulis terpaksa kembali menutup cerita ini denagn sebuah tanda titik dan penulis pun kembali lagi menjadi seorang pengangguran.

Alhamdulillah, Terima Kasih ya Allah kau telah banyak karuniakan Nikmat - Mu padaku

17 November 2008

Aku dan Keyboard

Aku yang tak pandai menulis,
terdiam dalam sepi prahara hati,
ketika pena tergadai untuk ekonomi
ketika kejayaan telah meraja

aku yang tak bisa menulis, hanya terpaku
jari terdiam diatas tuts papan tombol abjad

apa ini, akankah dunia kan bisa berubah dengan sebuah diplomasi
ketika silau monitor mulai menggangu pikirku, tersentak aku dari lamunan

tak ada penundaan lagi untuk keadilan kaum lemah
perjuangkan keadilan dengan pena mu...
dengan keyboard usang berdebu namun setia
dengan keterbatasan alam pikirku

aku bodoh, tapi cukup padaku . . .
jangan kepada mereka, generasi tak berdosa.

ketika kata mulai meracun asa
yakin kini ku tak ada yang tak bisa
semua mungkin jika dikehendaki-Nya

aku dan keyboardku yang tak sempurna
semoga kami tak berhenti, seperti deru senapan para pejuang Bangsa ku

Merdeka atau mimpi,
seperti halnya keadilan Bukanlah Mimpi . . .

kejarlah hai pemuda . . .