19 November 2008

LELAKI ITU PAK IMAN

Slurp . . . mulut pak Iman menyeruput segelas kopi, sambil duduk di beranda rumahnya sore itu. Kebiasaan yang dilakukan oleh pak Iman setiap harinya apabila tidak ada kesibukan, bukan berarti pak Iman ingin “cuci mata” memandangi abg - abg cewek di kompleks perumahannya yang menurut penulis cukup “wah” ( tapi penulis tidak sampai ngiler lo waktu bilang wah - nya ), pak Iman duduk dengan ditemani sarapan paginya yang masih tersisa ( maksudnya koran pagi tadi yang belum selesai dibacanya ), sesekali dia mengucap istighfar melihat berita - berita di koran itu.
Penulis yang dari tadi hanya duduk mengamati aktivitas beliau, mencoba memberanikan diri untuk bertanya menggunakan lidah yang pendek ini, “pak Iman, bolehlah ulun betakun,”lalu pak Iman menyahut sambil sedikit bercanda untuk mencairkan suasana kaku diantara kami “bolehai , tapi aku kada bajanji kawa manjawablah,” penulis pun terdiam berdehem sebelum bertanya, maklum itulah teknik lama yang sering dipakai untuk menghilangkan gugup dan malu, “anu, ulun handak betakun resep hidup pian, soalnya ulun nang anum wan bungul ni kagum banar lawan pian, pian urangnya alim, pejabt nang baik waktu masih menjabat dahulu, keluarga pian harmonis, anak pian bahasil wan alim lawan pintar sabarataan ( dalam hati penulis berkata : maka bungas pulang nang babinian ), kira – kira adakah tips wan triknya, soalnya wayah ini ulun ni lagi dalam pencarian arti hidup, sakaligus mencari jalan rejeki halal, soalnya ulun tergolong bubuhan PKK alias Pengangguran Kada Kakaruan, bihanu jua jadi PNS atawa Pencari Nafkah Serabutan,” kemudian setelah mendengar pertanyaan dari penulis, pak Iman menjawab, ”sabujurnya ikam talalu balabihan Dhan ( panggilan penulis : Dhani ) manilai aku, akuni biasa haja, sama haja wan urang lain, wan abah ikam, wan tetangg atawa wan pejabat – pejabat lain( penulis mengangguk, bukan karena perkataan pak Iman melainkan karena memahmi bahwa inilah tabiat serta sikap seorang yang berilmu dan beriman, selalu rendah hati ) aku nang jelas banar dulu bapasan wan ikam mun handak salamat dunia wan akhirat yaitu berilmu atawa manuntut ilmu, mun handak hidup nyaman jujur, mun ikam handak parajakian bagawi nang rajin jangan kada ingat besadakah, mun handak kaluarga harmonis balajar adil wan lajari kaluarga nang baik, contohakan nang bagus, kaitu Dhan-ae,” “inggih bujur jar pian pak,” penulis pun terdiam, kali ini tidak hanya seribu bahasa tetapi sejuta bahasa, semakin bertambah saja rasanya kekaguman pada pak Iman yang sekarang sudah pensiun dari jabatannya ini, beliau memang panas untuk dicontoh sebagai teladan.
Sungguh semua yang telah disampaikanoleh pak Iman memang terlihat sederhana, tetapi kadang bagi kita sangat sulit untuk mengamalkannya. “Dhan,” pak Iman membuyarkan lamunanku yang mengangkasa, penulis pun tersadar dari lamunan panjang mengingat kealfaan selama hidup 22 tahun telah mengeksplorasi secara gratis nikmat Tuhan, tanpa timbal balik maupun tuntutan pembayaran Fee Kepada-Nya, “inggih, pak, ada apa,” sahut penulis, “aku ada kiat untuk menjadi pejabat bebas korupsi, siapa tahu kaina ikam jadi pejabat, jadi pejabat bujuran lain Pejabat alias Pengangguran Jawa Barat, ” kata pak Iman sambil melontarkan sebuah canda, “inggih pak, pasti handak tahu, apa itu?” penulis pun menimpali,”nang pertama ikam harus ingat wan Tuhan, dimana atau apapun jabatan ikam, gawian ikam, insya Allah barokah, adapun masalah teknisnya yaitu siap dikritik, selalu introspeksi, rajin evaluasi, memperbaiki kesalahan dan berorientasi pada hasil didasari tanggung jawab dalam menjalankan tugas,” ujar pak Iman, penulis terdiam sambil mengingat dalam – dalam nasehat pak Iman. Nasehat dari seorang yang sukses dalam pekerjaanya dan dalam kehidupannya. Ketika masjid di kompleks perumahan tempat pak Iman sudah mulai mengumandangkan lantunan ayat suci Al Qur’an yang syahdu mendayu – dayu menandakan waku sholat maghrib hampir tiba, penulis pun beranjak seraya menjabat dan mencium tangan pak Iman untuk berpamitan pulang, “Assalamu ‘alaikum pak Iman,”. Penulis pun berlalu disertai dengan sahutan “Wa ‘alaikum salam,” oleh pak Iman. Dengan ditemani Shogun hitam putihnya untuk kembali ke rumah, disepanjang jalan penulis terpikir akan sebuah puisi sederhana yang diperuntukan bagi para pejabat yang telah tega mengkhianati kepercayaan rakyat, dengan sebuah kebijakan palsu dan jeratan diplomasi, disertai cekikan permainan politik untuk meraup keuntungan demi kepentingan pribadi, adapun isi puisi tersebut :

SALAMKU UNTUK PEJABAT (“KORUP”)
( Tersinggunglah apabila benar, maka perbaikilah )

Hai pak pejabat terhormat,
Masih layak kah ku beri rasa hormat, ataukah sebiji buah tomat.
Jangan kau beri mereka ”rakyatmu” rumput kering . . .
Rakyat bukan tunggangan, bukan pula kawanan hewan . . .

Mereka mengharap, keadilan dan kepedulian
Kami tak mampu membeli . . . , hidup kami lebih murah dari sebiji ban mobilmu yang bagus itu
Beras kami penuh kutu, tak cukup untuk seminggu, makan seharipun tak tentu
Anak kami menangis ingin susu, tapi kau tak mau tahu

Uang rakyat bukan nikmat untukmu, tapi api yang menyambar, akan membakarmu dari balik mejamu
Ketika kau di hotel mengumbar nafsu, kami tidur disini dengan lentera bintang kelambu awan

Hai pak pejabat, sadarlah sebelum dilaknat, sekarang saatnya untuk tobat,
Profesimu bisa menjadi ladang dosa, jika kau salah didalamnya
Maka dari itu, Jadikanlah Profesimu ladang amal bagimu

Penulis sadar masih banyak pak Iman – pak Iman yang lain,ketika penulis sampai dirumah, adzan maghrib mengumandang. Maka berakhirlah cerita ini, dan penulis siap untuk menjalani kembali hari esok masih sebagai seorang Dhani / Yadi . . . dan Kuliah serta propesi ganda ku, pengangguran, Sekian.
( Ketika tulisan selesai dibuat, sudah adzan subuh, penulis mandi dan siap – siap sholat, sebelum ketiduran nanti, mau ikut? )

Tidak ada komentar:

Posting Komentar