Tatapan teduhnya membuat hati teriris, rasanya tak ada lagi seberkas sinar harapan di matanya. Duduk bersandar dibawah tiang billboard yang diatasnya terpampang wajah seorang caleg.
Kakek itu sudah tak peduli hari ini hari apa, dan tanggal berapa. Dia hanya ingat tahun ini tahun 2009, puluhan tahun sudah kakinya setia mengayuh sepeda butut penuh karat itu untuk menjemput lembaran kertas penuh berita sarapan para bapak kaya, hanya harapan dan beberapa impian yang menjadi bahan bakar semangatnya untuk bertahan hidup menjajakan koran di perempatan jalan itu.
Baju lusuh dan dekil itulah yang menjadi seragamnya bekerja, bukan seragam coklat yang dibanggakan para pns, tanpa dasi, hanya topi penuh tambalan yang melindungi rambut peraknya dari sinar matahari . . Dia bukan keluargaku, dan tidak pula pernah menjadi temanku . . Tapi aku rindu melihat senyumnya ketika dia menghitung lembar-lembar uang ribuan penghasilannya.
Entah sampai kapan dia bertahan.. Entah berapa lama lagi fisiknya sanggup menopang beban hidup yang semakin berat.
Banjarmasin saksi nyata perjuanganmu wahai kakek penjual koran. Kau inspirasiku untuk maju dan mencari kehidupan layak, agar kiranya tak hanya sebatas doa saja kepedulianku . . Dan inilah kenyataan hidup
memandang hkehidupan dengan kepala tegak
BalasHapus