03 Februari 2009

Hujan Malam Itu

Malam itu dirinya terkapar, setelah sebuah kerikil ditengah jalan yang ditabraknya, membuat sepeda motornya terjungkal dan hancur karena jalan dalam keadaan licin, meski tak parah namun keadaan dirinya sangatlah membuat miris hati orang yang memandang, separuh dari kepalanya dibasahi oleh cairan kental merah itu, darah itu semakin lama semakin deras mengucur, namun tak berbanding lurus dengan napasnya yang semakin lemah dan sayup - sayup.

Beberapa warga tampak sibuk menolong dan sebagian menonton, seorang petugas Polantas sibuk untuk mencari mobil agar mau memberi tumpangan bagi seonggok tubuh sekarat itu. di waktu yang sama anak dan istrinya sedang menunggu dengan cemas, menunggu sang pahlawan keluarga yang tak kunjung tiba menyongsong dibalik pintu rumah sekat yang mereka tinggali.

Hampir setengah jam sudah tubuh lemah itu terbaring disebuah ruangan I.C.U di rumah sakit megah tersebut, namun tak ada kesibukan yang berarti untuk menanganinya, dalih para petugas rumah sakit mereka menunggu jaminan, dan menunggu keluarga yang datang, sementara pak Polantas yang tadi mengantarnya ke rumah sakit sibuk bersitegang agar korban tersebut segera ditangani, ya.. pemandangan yang cukup biasa terjadi rasanya.

Tepat 45 menit setelah dirinya terbaring diatas sprei putih rumah sakit dia pergi meninggalkan semua harapan yang pernah di impikannya selama hidupnya, selang beberapa menit dengan serta merta sang istri yang telah menemaninya hidup bertahun - tahun itu tiba, karena petugas Polantas yang menolongnya sudah memberi tahu keluarga terdekat korban.

Suasana hening di sudut ruang I.C.U seketika gaduh, suara tangis anaknya pecah diiringi dengan pingsannya sang Ibu, bukan salah hujan, bukan salahnya, bukan salah siapa - siapa, dan berakhirlah perjuangannya untuk memberi kehidupan yang terbaik untuk keluarganya, meski selama ini senyumnya selalu memberi ketentraman diantara pahitnya hidup mereka . . .

4 komentar:

  1. menolong sesama manusia saja terlampau banyak alasan,
    GO TO HELL FOR THEM !!!

    BalasHapus
  2. Mereka anggap uang lebih berharga dari pada nyawa manusia....

    BalasHapus
  3. Begitulah jika rumah sakit lebih mengutamakan bisnis ketimbang sosial...

    BalasHapus
  4. Dan air mataku pun turut menetes kepipi..sedih bro.. wwuuuuuuuuuuuuiiiiiiiiiiihhhhhhhhhhh......

    BalasHapus