April 2009, Ketika dia menyibak tirai kelam sejarah hidupnya, dia mendapat jawaban, kealfaan dirinya terhadap Sang Pencipta selama ini telah menjadi bumerang baginya, dia sadar, tak ada sesuatu yang terjadi begitu saja tanpa sebuah sebab.
Pagi itu, diantara batang pohon mangga yang gersang dia menyandarkan pundaknya, dia teringat, berapa tahun silam pohon mangga ini adalah pohon yang subur dan senantiasa memberikan buah terbaiknya, namun kini, yang diberikannya hanyalah daun kering yang senantiasa berjatuhan di atas tanah.
Tersadar akan sebuah realita, dia mencoba bangkit mencari makna hidupnya, mencoba membenahi kusutnya, namun kini ada satu hal yang begitu indah hadir menemaninya.
Dia tahu, bukan saatnya untuk serakah dan terlalu dini untuk memiliki, karena dia tahu, Tuhan akan memberikan kesempatan, dan akan dijawab oleh waktu
To be continue . . .
Sebuah kumpulan abjad dari keyboard usang si "Pengangguran Menulis Mimpi"
31 Maret 2009
28 Maret 2009
Di Antara Aruh Blogger, Keceriaan dan Harapan
Keusilan PMM
Rasanya malam ini pengen ketawa sekeras-kerasnya.. Pertama > karena berhasil ganggu seorang temen cewek yang sudah ngebet pengen tidur, ampe 1 jam molor waktunya... Kedua > karena berhasil menjalankan skenario sandiwara yang nyaris sempurna.. Mungkin selain dari ratusan permohonan maaf dari lisan dan sms.. Posting ini juga mewakili permohonan maafku.. Meskipun dirinya juga gokil.. tetep dia manusia juga. Yang pastinya udah pucat pasi tuh mukanya karena super jokes dariku hahaha.. Maaf ya neng.. Lain kali.. Aku usil lagi ya.. Karena malam ini aku tak sempat liat muka mu waktu di usilin
Wassalam .. He he
Wassalam .. He he
26 Maret 2009
Meski Datang Namun Tak Pernah Diserukan
Berlari diantara lolongan malam mencekam, terpaut sedih antara takdir
Hujan namun tak mendung, meski datang namun tak pernah diserukan.
Melihat mimpi bergelayut di pundak takdir, melihat malaikat ditengah senja..
Berlari dan dijalani tiada beda, toh akhirnya pecah juga riak airnya
mengayuh dalam angin, menerpa hidup di jembatan mimpi...
Aku pengangguran menulis mimpi tercabik asa, tercabik takdir...
Melayang bersama waktu, hanyut dalam arus nelangsa, namun itu indah...
Hujan namun tak mendung, meski datang namun tak pernah diserukan.
Melihat mimpi bergelayut di pundak takdir, melihat malaikat ditengah senja..
Berlari dan dijalani tiada beda, toh akhirnya pecah juga riak airnya
mengayuh dalam angin, menerpa hidup di jembatan mimpi...
Aku pengangguran menulis mimpi tercabik asa, tercabik takdir...
Melayang bersama waktu, hanyut dalam arus nelangsa, namun itu indah...
25 Maret 2009
23 Maret 2009
Kembali (2)
Malam itu sepasang kaki melangkah gontai disinari sang dewi malam. Dia pulang namun sekali ini bukan dengan mimpi yang dulu dan bukan untuk Bunga.
Dia tahu cinta Bunga bukan untuknya lagi, bahkan tiada lagi dia peduli apakah Bunga masih dapat mekar lagi, baginya Bunga telah layu.
Berat memang ujian untuk sang Mimpi, dia bukanlah Mimpi yang dulu, dimana kemudahan dan kejayaan berteman dengannya.
Bunga tak memiliki jiwa dari Cinta namun hanya memiliki aromanya saja. Hingga ketika angin bertiup maka hilanglah wangi itu.
Mimpi kini laksana seorang pesakitan, setelah tersesat dalam lorong pengangguran, terjebak dalam perangkap kebangkrutan dan memperoleh hadiah cacat fisik mungkin inilah yang membuat Bunga pergi.
Mimpi tetap tersenyum dan selalu berusaha membuat semua teman tersenyum. Mimpi tahu dia masih memiliki para adik yang bijak dan teman yang santun. Dan Mimpi tahu mungkin saat dirinya terpuruk entah siapa yang mau meniupkan lagi seruling angin kasih, itu tak bisa terjawab dan sebuah rahasia.
( Kembali 3 )
Dia tahu cinta Bunga bukan untuknya lagi, bahkan tiada lagi dia peduli apakah Bunga masih dapat mekar lagi, baginya Bunga telah layu.
Berat memang ujian untuk sang Mimpi, dia bukanlah Mimpi yang dulu, dimana kemudahan dan kejayaan berteman dengannya.
Bunga tak memiliki jiwa dari Cinta namun hanya memiliki aromanya saja. Hingga ketika angin bertiup maka hilanglah wangi itu.
Mimpi kini laksana seorang pesakitan, setelah tersesat dalam lorong pengangguran, terjebak dalam perangkap kebangkrutan dan memperoleh hadiah cacat fisik mungkin inilah yang membuat Bunga pergi.
Mimpi tetap tersenyum dan selalu berusaha membuat semua teman tersenyum. Mimpi tahu dia masih memiliki para adik yang bijak dan teman yang santun. Dan Mimpi tahu mungkin saat dirinya terpuruk entah siapa yang mau meniupkan lagi seruling angin kasih, itu tak bisa terjawab dan sebuah rahasia.
( Kembali 3 )
20 Maret 2009
Teruskan Perjuanganku
Waduh.............................
Pantes si Didoy semangat banget Pm aku di YM ternyata mau ngasih Misi....
Peraturan Misi ini cukup Nyleneh, tapi kalo kerjain maka kita bakalan dapat award kabarnya (kali)...
Peraturannya kayak gini (kata Didoy).....
1. Ambil photo terbaru mu atau photo sekarang juga
2. Jangan Ganti baju, jangan rapikan rambut, pokoknya ambil photo aja.
3. Post photo itu nggak pake di edit
4. Post instruksinya barengan ama photomu
5. Tag 10 orang buat ngelakuin ini.
Pantes si Didoy semangat banget Pm aku di YM ternyata mau ngasih Misi....
Peraturan Misi ini cukup Nyleneh, tapi kalo kerjain maka kita bakalan dapat award kabarnya (kali)...
Peraturannya kayak gini (kata Didoy).....
1. Ambil photo terbaru mu atau photo sekarang juga
2. Jangan Ganti baju, jangan rapikan rambut, pokoknya ambil photo aja.
3. Post photo itu nggak pake di edit
4. Post instruksinya barengan ama photomu
5. Tag 10 orang buat ngelakuin ini.
19 Maret 2009
Kembali (1)
19 maret 2008, kembali...
diantara kabut pagi itu, dia sang lelaki itu datang, dialah yang selalu menjadi bayangan dalam mimpi sang Bunga.
Entah berapa lama sudah dia tak kembali dari tidur panjang, bukan karena dia ingin menjadi seorang pemimpi.
Diantara cinta, dilema dan nelangsa dia bertarung menempuh hidup.
Mencoba mencari arti dari sepenggal kisah hidup sang Petualang.
( To be Continue . . .)
diantara kabut pagi itu, dia sang lelaki itu datang, dialah yang selalu menjadi bayangan dalam mimpi sang Bunga.
Entah berapa lama sudah dia tak kembali dari tidur panjang, bukan karena dia ingin menjadi seorang pemimpi.
Diantara cinta, dilema dan nelangsa dia bertarung menempuh hidup.
Mencoba mencari arti dari sepenggal kisah hidup sang Petualang.
( To be Continue . . .)
03 Maret 2009
Anak Bintang
Dia lahir tanpa kedua tangan dan tanpa nikmat penglihatan, dia adalah seorang anak miskin dari pedalaman, dia hidup dengan kesederhanaan dan kesengsaraan, tapi rasa syukurnya jauh lebih besar melebihi aku yang mendapat lebih banyak nikmat dari Tuhan, satu waktu aku pernah bertanya kepadanya, "kenapa engkau bersyukur dengan ( maaf ) keadaanmu yang seperti ini ?, dia pun menimpali, "aku merasa bersyukur karena banyak yang masih bisa kunikmati, makanan, minuman, udara yang sejuk, dapat mendengar indahnya alam, dan yang terpenting masih bisa berjalan, selain itu aku juga terhindar oleh dosa tangan dan mata ku", jawabnya singkat. Aku tertegun dan mencoba memandang ke langit malam itu, sembari mencoba membatin dan bersyukur pada Tuhan, Aku tahu sobat, kau anak bintang meski kecil kau memiliki arti besar bagi keluargamu, meski terlihat lemah namun kau mampu bersinar aku salut kepadamu.
Aku mencoba kembali menggali memori 12 tahun yang lalu, saat di beranda sebuah rumah usang, di kampung itu ,ketika aku duduk bersamanya terlibat pembicaraan singkat tentang hal tersebut, kurasakan mata ini mulai basah dan aku sadar, sampai kapankah kiranya aku bisa mencapai tingkat keimanan sepertinya, nikmat yang diberikan Tuhan kepadaku rasanya banyak yang terlupakan untuk disyukuri, aku malu, bahkan kepada diriku sendiri, untuk menghilangkan kegundahan kucoba untuk membuka tas kuliahku, aku teringat akan sebuah buku motivasi berbalut nuansa religi yang dipinjamkan temanku sore tadi.
Aku terperanjat, dan kucoba lagi membaca dan mengeja kembali huruf demi huruf nama sang pengarang buku tersebut, tak percaya, dan ternyata setelah ku baca kembali biografi singkat sang pengarang, benar sekali, dia adalah si Anak Bintang, temanku yang cacat itu, aku serta merta menangis haru, aku senang Si Anak Bintang kini sukses, dan aku pun sadar Tuhan selalu punya Rahasia di balik semuanya, pagi harinya aku si Pengangguran Menulis Mimpi pergi untuk kembali mencoba mencari arti hidup dan rahasia-Nya di dunia ini, karena iman-ku masih terlalu dangkal dan amal-ku masih terlalu sedikit untuk dijadikan bekal, aku berdoa untuk mu wahai Si Anak Bintang.
Aku terperanjat, dan kucoba lagi membaca dan mengeja kembali huruf demi huruf nama sang pengarang buku tersebut, tak percaya, dan ternyata setelah ku baca kembali biografi singkat sang pengarang, benar sekali, dia adalah si Anak Bintang, temanku yang cacat itu, aku serta merta menangis haru, aku senang Si Anak Bintang kini sukses, dan aku pun sadar Tuhan selalu punya Rahasia di balik semuanya, pagi harinya aku si Pengangguran Menulis Mimpi pergi untuk kembali mencoba mencari arti hidup dan rahasia-Nya di dunia ini, karena iman-ku masih terlalu dangkal dan amal-ku masih terlalu sedikit untuk dijadikan bekal, aku berdoa untuk mu wahai Si Anak Bintang.
Langganan:
Komentar (Atom)

