31 Maret 2009

Kembali ( 3 )

April 2009, Ketika dia menyibak tirai kelam sejarah hidupnya, dia mendapat jawaban, kealfaan dirinya terhadap Sang Pencipta selama ini telah menjadi bumerang baginya, dia sadar, tak ada sesuatu yang terjadi begitu saja tanpa sebuah sebab.

Pagi itu, diantara batang pohon mangga yang gersang dia menyandarkan pundaknya, dia teringat, berapa tahun silam pohon mangga ini adalah pohon yang subur dan senantiasa memberikan buah terbaiknya, namun kini, yang diberikannya hanyalah daun kering yang senantiasa berjatuhan di atas tanah.

Tersadar akan sebuah realita, dia mencoba bangkit mencari makna hidupnya, mencoba membenahi kusutnya, namun kini ada satu hal yang begitu indah hadir menemaninya.

Dia tahu, bukan saatnya untuk serakah dan terlalu dini untuk memiliki, karena dia tahu, Tuhan akan memberikan kesempatan, dan akan dijawab oleh waktu

To be continue . . .

10 komentar:

  1. besambung-sambung, jadi kena ja komentarnya mun dah tuntung

    BalasHapus
  2. ane umpat komen di atas. he..he...

    BalasHapus
  3. mauxxxxxxxxxxx........ bersambung kaya film ha.....

    BalasHapus
  4. umpat jua wan buhannya, :D, kena z mund dah tuntung kisahnya.... x(

    BalasHapus
  5. Wah nyambung trus deh critanya, lun tgg ending nya deh :)

    BalasHapus
  6. Yang lain pada negatif, hehehe, bang novi.endingnya tu ada pas ane mati, baru...

    BalasHapus
  7. x( kaya senetron ja lagi besambung muar aku hehe:))

    BalasHapus
  8. Ayah menanti dengan sabar...kelanjutannya....kayaknya ujung-ujungnya menyedihkan na...

    BalasHapus
  9. saya Ikut Ayah aja, sabar, tidak memberi komentar payah seperti para pemuda diatas, kasihan sekali mereka tidak mengerti seni

    BalasHapus
  10. @ ayah dan Ridwan : Thanks udah mau nunggu sambungannya, yah kreatifitas sarat dengan kritik...

    BalasHapus