Manis senyumnya masih terpatri di benak Yusuf. Dialah dara berkerudung dari kampung sebelah yang senantiasa menghantui Yusuf, Aisyah namanya, tutur katanya yang santun, sikapnya yang anggun, sungguh pesona itu melumatkan hati kaum Adam yang berjumpa dengannya.
Waktu menunjukan pukul 23.30, terdengar jelas detak jarum jam yang menempel di dinding kamar kost Yusuf, terlihat beberapa cicak berkejar-kejaran di langit-langit kamarnya, sesaat Yusuf mulai meneteskan air mata.
Lima tahun yang lalu, tepatnya saat Yusuf dan Aisyah bersekolah di kampungnya, di sebuah Madrasah Aliyah Negeri yang terletak di pinggiran kampung, masa remaja mereka yang terbalut nuansa syahdu itu adalah masa terindah bagi Yusuf.
Hari demi hari mereka lalui dengan beragam kegiatan positif, mengikuti pengajian rutin di Musholla dan mengajar anak-anak mengaji, meskipun tak pernah terucap, namun di hati mereka tersimpan rasa cinta yang begitu dalam, entah seberapa dalamnya, bahkan mungkin untuk menyelaminya perlu waktu satu tahun cinta.
Kamis pagi setelah mata pelajaran olah raga, tanpa sebab yang pasti Aisyah jatuh pingsan, setengah sekolah gempar dan bertanya apa yang sebenarnya terjadi padanya, maklumlah kejadian serupa sangat jarang terjadi di sekolah itu, selain itu rasa kekeluargaan yang begitu kental juga merupakan faktor yang cukup dominan mempengaruhi, mungkin rasa seperti itu sudah sangat jarang kita temui di kota.
Di kelas tampak Yusuf sangat gelisah memikirkan sesuatu yang terjadi pada Aisyah, ritme jantungnya semakin lama semakin kencang, suara detak itu mungkin sekencang beduk yang berdentum dalam lomba takbiran malam lebaran.
Ribuan tarikan nafas panjang telah dilakukan Yusuf untuk menenangkan diri, namun itu tak memberikan ketenangan sedikitpun, bahkan kini seluruh ruang di otak Yusuf telah dipenuhi sejuta gambaran kemungkinan yang terjadi pada Aisyah.
Teng teng teng begitu bel akhir sekolah berbunyi, Yusuf secepat kilat memacu sepeda tua warisan kakeknya menyusuri jalan setapak menuju rumahnya, begitu sampai di rumah, dengan serta merta dia berganti pakaian, kemudian di kayuhnya lagi pedal sepeda itu sekuat tenaga laksana seorang pembalap dunia yang membela reputasi negaranya di lintasan sirkuit waktu tak berujung.
Disandarkannya sepeda tua itu pada sebatang pohon jambu di pekarangan rumah Aisyah. Masih terlintas kenangan masa kanak-kanak Yusuf dulu ketika dia terjatuh dari pohon itu karena digigit semut demi untuk mengambilkan buah jambu untuk Aisyah.
"Assalamualaikum" ucap Yusuf tatkala dirinya tiba di pintu rumah Aisyah yang reot,
"Wa'alaikum salam", sahutan parau dari ayah Aisyah menimpali.
Begitu masuk dan dipersilakan duduk, tanpa basa basi Yusuf menanyakan apa sebenarnya yang menimpa Aisyah, tapi Yusuf tak mendapat jawaban yang memuaskan, yang mereka tahu hanyalah beberapa hari terakhir Aisyah mengeluh sakit pada bagian kepalanya, ada benjolan di bagian belakang kepalanya, ibunya menuturkan. Tampak di salah satu sudut ruangan Aisyah terbaring tak berdaya, lemah seakan kehilangan sepertiga nyawanya, rintihannya lirih mengiris kalbu, terasa begitu sakitnya derita yang dialami Aisyah, sungguh memilukan dan tragis, hati Yusuf seakan hancur menyaksikan sang dara terkasih tersiksa, maklumlah keluarga Aisyah tergolong miskin di kampung tersebut ditambah lagi jauhnya jarak ke kota terdekat yang memakan waktu sepuluh jam perjalanan dengan kendaraan bermotor.
Seminggu setelah hari tersebut akhirnya diketahui apa sebenarnya telah menimpa Aisyah. Informasi tersebut disampaikan oleh seorang dokter dari kota, anak salah satu penduduk kampung yang kebetulan sedang mengunjungi orang tuanya, Kanker.
Tak terbendung lagi kesedihan bagi Yusuf, rasanya kenyataan itu terlalu berat untuk diterimanya, belum lagi berjuta mimpi Aisyah yang pernah disampaikan pada Yusuf harus pupus, hilang seperti asap yang terbawa angin sore.
Tubuh putih mulus itu kini kurus kering, matanya semakin sayu, suara indahnya kini hanya terdengar sayup-sayup, tak sanggup rasanya Yusuf menyaksikan keadaan perempuan terkasihnya itu, tak ada yang bisa dilakukan keluarga dan para tetangga, hanya doa dan obat-obatan tradisional yang bisa mereka berikan. Bahkan kunjungan dari petugas kesehatan kampung pun hanya bisa pasrah meski sudah segenap kemampuan mereka kerahkan untuk Aisyah. Yusuf kini semakin kurus, raganya kini seperti ikut merasakan derita yang dialami sang gadis berkerudung biru itu.
Di tengah terik matahari siang itu pak Amin dan Ridwan tengah sibuk menggali, mereka mempersiapkan lubang 2 x 1 meter untuk tempat beristirahatnya Aisyah, minggu malam tadi Aisyah dijemput Yang Maha Kuasa, kanker itu telah menyelimuti hari-hari terakhir hidup Aisyah, hal ini pula yang membekas dalam jalan hidup Yusuf. Tangisnya hari itu seperti sebuah pelampiasan kekesalan berkepanjangan pada keterbatasan dan kemiskinan yang mencekik sebagian orang di dunia, Yusuf bertekad untuk bisa menjadi dokter demi bisa membantu sesama dan membayar pengorbanan Aisyah, cintanya yang kini terbalut kafan putih seputih awan siang itu.
Oleh : Dhani_Yadi ( Pengangguran Menulis Mimpi )
Kupersembahkan tulisan ini . . .
Untuk mereka yang telah meninggal direnggut kanker
Untuk mereka para Dokter yang bersedia membantu kaum tak mampu
Untuk kekasihku tercinta yang senantiasa memberi semangat dan cinta untuk-ku ( 90 )
Untuk seluruh keluargaku, khususnya kedua orang tuaku tersayang
Lima tahun yang lalu, tepatnya saat Yusuf dan Aisyah bersekolah di kampungnya, di sebuah Madrasah Aliyah Negeri yang terletak di pinggiran kampung, masa remaja mereka yang terbalut nuansa syahdu itu adalah masa terindah bagi Yusuf.
Hari demi hari mereka lalui dengan beragam kegiatan positif, mengikuti pengajian rutin di Musholla dan mengajar anak-anak mengaji, meskipun tak pernah terucap, namun di hati mereka tersimpan rasa cinta yang begitu dalam, entah seberapa dalamnya, bahkan mungkin untuk menyelaminya perlu waktu satu tahun cinta.
Kamis pagi setelah mata pelajaran olah raga, tanpa sebab yang pasti Aisyah jatuh pingsan, setengah sekolah gempar dan bertanya apa yang sebenarnya terjadi padanya, maklumlah kejadian serupa sangat jarang terjadi di sekolah itu, selain itu rasa kekeluargaan yang begitu kental juga merupakan faktor yang cukup dominan mempengaruhi, mungkin rasa seperti itu sudah sangat jarang kita temui di kota.
Di kelas tampak Yusuf sangat gelisah memikirkan sesuatu yang terjadi pada Aisyah, ritme jantungnya semakin lama semakin kencang, suara detak itu mungkin sekencang beduk yang berdentum dalam lomba takbiran malam lebaran.
Ribuan tarikan nafas panjang telah dilakukan Yusuf untuk menenangkan diri, namun itu tak memberikan ketenangan sedikitpun, bahkan kini seluruh ruang di otak Yusuf telah dipenuhi sejuta gambaran kemungkinan yang terjadi pada Aisyah.
Teng teng teng begitu bel akhir sekolah berbunyi, Yusuf secepat kilat memacu sepeda tua warisan kakeknya menyusuri jalan setapak menuju rumahnya, begitu sampai di rumah, dengan serta merta dia berganti pakaian, kemudian di kayuhnya lagi pedal sepeda itu sekuat tenaga laksana seorang pembalap dunia yang membela reputasi negaranya di lintasan sirkuit waktu tak berujung.
Disandarkannya sepeda tua itu pada sebatang pohon jambu di pekarangan rumah Aisyah. Masih terlintas kenangan masa kanak-kanak Yusuf dulu ketika dia terjatuh dari pohon itu karena digigit semut demi untuk mengambilkan buah jambu untuk Aisyah.
"Assalamualaikum" ucap Yusuf tatkala dirinya tiba di pintu rumah Aisyah yang reot,
"Wa'alaikum salam", sahutan parau dari ayah Aisyah menimpali.
Begitu masuk dan dipersilakan duduk, tanpa basa basi Yusuf menanyakan apa sebenarnya yang menimpa Aisyah, tapi Yusuf tak mendapat jawaban yang memuaskan, yang mereka tahu hanyalah beberapa hari terakhir Aisyah mengeluh sakit pada bagian kepalanya, ada benjolan di bagian belakang kepalanya, ibunya menuturkan. Tampak di salah satu sudut ruangan Aisyah terbaring tak berdaya, lemah seakan kehilangan sepertiga nyawanya, rintihannya lirih mengiris kalbu, terasa begitu sakitnya derita yang dialami Aisyah, sungguh memilukan dan tragis, hati Yusuf seakan hancur menyaksikan sang dara terkasih tersiksa, maklumlah keluarga Aisyah tergolong miskin di kampung tersebut ditambah lagi jauhnya jarak ke kota terdekat yang memakan waktu sepuluh jam perjalanan dengan kendaraan bermotor.
Seminggu setelah hari tersebut akhirnya diketahui apa sebenarnya telah menimpa Aisyah. Informasi tersebut disampaikan oleh seorang dokter dari kota, anak salah satu penduduk kampung yang kebetulan sedang mengunjungi orang tuanya, Kanker.
Tak terbendung lagi kesedihan bagi Yusuf, rasanya kenyataan itu terlalu berat untuk diterimanya, belum lagi berjuta mimpi Aisyah yang pernah disampaikan pada Yusuf harus pupus, hilang seperti asap yang terbawa angin sore.
Tubuh putih mulus itu kini kurus kering, matanya semakin sayu, suara indahnya kini hanya terdengar sayup-sayup, tak sanggup rasanya Yusuf menyaksikan keadaan perempuan terkasihnya itu, tak ada yang bisa dilakukan keluarga dan para tetangga, hanya doa dan obat-obatan tradisional yang bisa mereka berikan. Bahkan kunjungan dari petugas kesehatan kampung pun hanya bisa pasrah meski sudah segenap kemampuan mereka kerahkan untuk Aisyah. Yusuf kini semakin kurus, raganya kini seperti ikut merasakan derita yang dialami sang gadis berkerudung biru itu.
Di tengah terik matahari siang itu pak Amin dan Ridwan tengah sibuk menggali, mereka mempersiapkan lubang 2 x 1 meter untuk tempat beristirahatnya Aisyah, minggu malam tadi Aisyah dijemput Yang Maha Kuasa, kanker itu telah menyelimuti hari-hari terakhir hidup Aisyah, hal ini pula yang membekas dalam jalan hidup Yusuf. Tangisnya hari itu seperti sebuah pelampiasan kekesalan berkepanjangan pada keterbatasan dan kemiskinan yang mencekik sebagian orang di dunia, Yusuf bertekad untuk bisa menjadi dokter demi bisa membantu sesama dan membayar pengorbanan Aisyah, cintanya yang kini terbalut kafan putih seputih awan siang itu.
+II+
Pukul 03.45 pagi, Yusuf menangis, kini dirinya sedang mencoba meraih mimpi untuk menjadi seorang dokter. Kanker yang merebut Aisyah darinya telah memacu motivasi besar baginya. untuk menjadi seorang dokter. Dia ingin mengabdikan diri melawan penyakit itu, menolong kaum miskin, menghancurkan sekat keterbatasan dan kemiskinan. Dan kini dia telah sukses menjalani studinya, dialah dokter muda baik hati yang ramah, Dia dokter Yusuf.Oleh : Dhani_Yadi ( Pengangguran Menulis Mimpi )
Kupersembahkan tulisan ini . . .
Untuk mereka yang telah meninggal direnggut kanker
Untuk mereka para Dokter yang bersedia membantu kaum tak mampu
Untuk kekasihku tercinta yang senantiasa memberi semangat dan cinta untuk-ku ( 90 )
Untuk seluruh keluargaku, khususnya kedua orang tuaku tersayang
Dikembangin lagi aja bro :) jadi ntar ada setting tempat yang lebih spesifik, trus ada dialognya, trus alurnya juga. :)
BalasHapusCuman bisa nyaranin itu see... :D
Thanks komentarnya thom, itulah anehnya saya thom, nulis nya, tergantung suasana hati, dan selalu berubah, kadang dilengkapi, alur, setting tempat, kadang alur lompat dan random, yah yang aneh2 gitu, because that is my style, my style is nyleneh :D
BalasHapusKesedihan yang jadi semangat. Sip Markusip.
BalasHapusKamu kayaknya asik kenalan sama Tukang Cerpen juga : Namanya fanny fan fan fan fan fatamorgana fredi n lina . Aku manggilnya Mbak fan-fan. Coba kamu kunjungi bu cerpernis itu ya, kan dia seirama en senasip sama kamu. Sama-sama tukang nulis cerpen. Nih alamatnya :
www.just-fatamorgana.blogspot.com
cerita yang menarik
BalasHapusmengharukan.....
BalasHapusminta tisu dongggg
sedih kisahnya, nah...
BalasHapusMas... bener ya ... karakter tokoh elu mirip bgt. T O P B G T deh... gue jadi semangat untuk menulis love storyku , tapi mesti sabar... ceritaku bersambung... dan takut ... kalo nanti sang tokoh bangun ... hehe.. Salam Sukses Luar biasa!!!
BalasHapusBagus paparan ... dari kenyataan menjadi tulisan, atau lamunan menjadi tulisan? Tidak penting. Yang penting menjadi tulisan bermanfaat. Salam.
BalasHapussedih bangeeett! cerpen yg sangat manis.
BalasHapus@ lovepassword mengatakan...3
BalasHapusTerima kasih yah infrmasinya dan komentarnya
@ annosmile mengatakan... 4
Thanks udah datang ya bos . .
@ suwung mengatakan... 5
Ternyata mas Suwung bisa nangis juga hehehe
@ randualamsyah mengatakan... 6
Sedih jua'ai, tapi waktu nulis ini lagi bahagia bang
@ agil suratno mengatakan... 7
Sebenarnya bukan karakter tokoh saya yang mirip cerita bapak , tapi karakter cewek saya yang mirip sama karakter yg ditulisan sampeyan. . .
@ Ersis Warmansyah Abbas mengatakan... 8
Terima Kasih bang, sampeyan mantab sekali
@ Sang Cerpenis bercerita mengatakan... 9
Sampeyan lebih hebat nulisnya mbak . . .
Terima Kasih Semuanya . . .
Weh postingan yang membuat aku trenyuh nih..... heheh :)
BalasHapussaya hampir menangis bacanya
BalasHapusjadi ingat teman pacar yang meningal gara2 kanker hati... :-
BalasHapus:) emmmmmmmmmmmm............
BalasHapusmakasih y udah mampir k blogQ
BalasHapusmaaf bru mampir..hehehe
nice post...btw, klo nyebut yusuf, aQ jd ingat tmnQ yg dokter n kebetulan namanya jg yusuf..hehe..
salam kenal :)
adakah yang bisa kita lakukan ?
BalasHapus@ Novianto ... 11
BalasHapus@ syafwan ... 12
@ manusiahero ... 13
@ Kodoy|Net|Blog ... 14
@ sarah 15
@ anda ... 16
Thanks Komentarnya . . .
Mantap......dilihat nyaman....
BalasHapusKomentar ini telah dihapus oleh administrator blog.
BalasHapus