Langkah gontai itu kembali menyusuri jalan setapak pinggiran sungai, sebuah rutinitas untuk sepasang kaki ringkih yang sudah menapaki kulit bumi bertahun-tahun ini, tubuh renta yang telah lapuk dimakan usia itu tampak bungkuk, namun dari raut wajahnya terpancar semangat yang tinggi untuk segera bisa sampai pada tempat yang ditujunya, sayup-sayup terdengar suara adzan, langkah itu kini semakin cepat seperti peluru para pejuang yang siap menerjang para penjajah, satu harapan dalam hatinya, yaitu untuk menunaikan sholat berjamaah di mesjid itu bersama para sahabat sebayanya, sekilas mereka tampak seperti kumpulan orang yang berlomba menuju maut.
"Alhamdulillah", batin Rahmadi, tatkala kakinya menginjak halaman masjid komplek itu, dengan serta merta dirinya menjadi sumringah, entah kebahagiaan apa yang dirasakannya, hanya dirinya yang mampu menjelaskan. setelah selesai menunaikan kewajibannya Rahmadi sempat berbincang sejenak dengan beberapa jama'ah lain, seperti biasa topik pembicaraan mereka tentang rumah ibadah itu, keprihatinan mengenai masjid "yang semakin besar" tentunya karena kehilangan jama'ah dan masjid yang kini seakan seperti panti jompo karena tak terlihat lagi anak muda disana, sama seperti yang terlihat di sekitar tempat tinggal kita.
Sepulangnya di rumah, Rahmadi membuat seisi rumah heran, dia membawa 12 batang lidi di genggaman tangannya, lidi tersebut memang diambil dari sapu yang biasa dipakai untuk membersihkan pekarangan rumahnya, "Untuk apa lidi-lidi itu pak?" istrinya bertanya heran, dengan entengnya Rahmadi menjawab dengan sebuah jawaban misterius "Setiap lidi ini memiliki makna pentingnya kehidupan di dunia", mendengar jawaban tersebut keluarga sederhana Rahmadi hanya bisa terdiam diselimuti kebingungan yang mendalam di sanubari mereka.
Setiap harinya saat berangkat menunaikan ibadah sholat ashar Rahmadi membawa sebatang lidi tersebut, sepulang dari masjid ada kebiasaan baru Rahmadi yaitu mengunjungi tempat-tempat "ladang amal" seperti panti asuhan, rumah fakir miskin, dan tempat lainnya yang penuh rahmat Allah, entah apa maksud dari tingkah laku Rahmadi tersebut, sempat terbersit kecemasan dari hati istrinya, dia takut kehilangan imam di rumah bahagia mereka, sosok seorang ayah yang luar biasa, santun, sederhana, bersahaja, tapi pemikiran itu segera ditepis oleh istrinya, karena dirinya kini merasa bangga menikahi seseorang seperti Rahmadi, dalam usia senjanya Rahmadi semakin dekat dengan sang pencipta.
Tak terasa lidi yang diletakkan di atas meja di depan pintu kamar tidur Rahmadi kini tinggal tersisa tiga batang karena memang setelah lidi tersebut dibawa berangakat pergi lidi tersebut ditinggalkan disetiap pintu atau jalan masuk tempat yang didatanginya, "Hmm tinggal tiga batang, waktu berlalu cukup cepat" dia menggumam, hari itu Rahmadi membawa lidi tersebut dan meletakkannya di depan jalan masuk komplek pemakaman tempat orang tuanya dikuburkan, setelah berziarah dan memanjatkan doa di atas kuburan kedua orang tua serta beberapa keluarga yang telah meninggal dia menyempatkan diri pula untuk menanyakan letak tanah kuburan yang telah dipersiapkan untuk dirinya dan keluarganya kepada penjaga makam sembari menyelipkan beberapa lembar uang di kantong penjaga kubur sebagai tanda terima kasih telah merawat dan membersihkan kuburan sanak keluarganya. Keesokan harinya, Rahmadi melakukan sebuah kegiatan janggal, selesai sholat di masjid dia bergegas pergi ke pasar terdekat dengan membawa lidi lagi, entah apa yang dibelinya disana, namun ketika pulang kerumah dia berpesan pada istrinya, "Istriku, barang ini akan kuperlukan nanti pada saat lidi terakhir itu habis, tolong nanti kau ambil di lemari pakaian kita, tapi sebelumnya jangan pernah dibuka dulu" selesai berkata seperti itu Rahmadi mengajak seluruh isi rumah untuk membereskan rumahnya dan berkata, "kita akan mengadakan acara, Ayah minta maaf sebelumnya kepada kalian semua, semoga saja acara ini nantinya berjalan baik", tak ada satu pertanyaan pun yang dijawab Rahmadi, suasana terlihat kaku, malamnya mereka sekeluarga terlibat pembicaraan serius. Siapa yang menyangka lidi terakhir ternyata diletakkan Rahmadi di depan pintu masjid, selepas sholat ashar kali ini Rahmadi tidak lagi melakukan perjalanan membawa lidi-lidinya, hari ini Rahmadi memilih berbincang-bincang di masjid kepada seluruh jama'ah dan para alim ulama disana, Rahmadi tampak lebih bersahaja hari itu, tutur kata lembutnya, sikap santunnya terasa menyejukkan suasana, mereka terlibat sedikit dialog, Rahmadi membuat suasana masjid sore itu seperti selepas sholat ied.
Pagi jum'at, istrinya mendapati suaminya telah terkulai lemas diatas sajadahnya, Rahmadi wafat diatas sajadah di dalam tahajudnya, istrinya menangis dan menyadari bahwa ternyata maksud dari 12 lidi tersebut adalah hari menjelang kematian suaminya, keluarga Rahmadi sadar acara yang akan mereka selenggarakan yaitu acara penyelenggaraan jenazah Ayah tercinta mereka, Rahmadi ayah dua anak itu tampak tersenyum dalam kematiannya, wajahnya sungguh polos dan damai, istrinya segera bergegas membuka bunguksan yang pernah dititipkan tempo hari padanya, didalamnya terdapat lembaran kain kafan dan beberapa nota pembelian alat-alat kematian termasuk sebuah nisan yang telah bertuliskan nama dan tanggal kematiannya. Tak banyak orang seberuntung Rahmadi yang bisa mengetahui kematiannya, Rahmadi beruntung karena keimanannya.
Pengangguran Menulis Mimpi
wah enak ya kematian bisa diketahui kapan waktunya.mungkin hanya orang beriman saja.
BalasHapusmanahu.. wali mana tuh dan?
BalasHapusAh, mungkinkah aku juga bisa mati husnul khatimah. Sekarang sulit ditemui yg seperti itu.
BalasHapusKomentar ini telah dihapus oleh administrator blog.
BalasHapusKomentar ini telah dihapus oleh administrator blog.
BalasHapusKomentar ini telah dihapus oleh administrator blog.
BalasHapusKomentar ini telah dihapus oleh administrator blog.
BalasHapus