Hujan baru saja reda, menyisakan butiran-butiran air di kaca jendela.Sejak dua jam yang lalu dua orang remaja menunggu hujan itu berhenti. Dan penantian merekapun tidak sia-sia, karena didepan mereka kini terhampar pelangi yang sangat mereka nantikan.
“Ujannya udah reda Ga!!!!! Kita keluar yuk.......” seru Arin riang sambil membuka jendela kamarnya. Kemudian ia menggandeng Rega dan bersama-sama pergi ke taman.
“Pelanginya udah keliatan jelas Rin?” tanya Rega pada Arin yang dengan santai bersender dibahunya. Mereka berdua duduk dibangku taman yang biasa mereka duduki.
“Jelas dong, malah hari ini lebih bagus dari biasanya. Bagus banget,”
“Coba aku bisa ngeliat ya Rin,” sesal Rega membuat Arin merasa tidak enak karena telah membuat sahabatnya berkecil hati.
“Sudahlah..... kan ada aku yang ngegantiin mata kamu”
Kasih Ibu adalah nama panti asuhan tempat Rega dan Arin tinggal. Sejak masih sangat kecil, mereka sudah tinggal disana. Rega memang buta sejak ia baru lahir. Tetapi ia beruntung karena ada Arin yang selalu setia mendampinginya baik sebagai sahabat ataupun menjadi mata baginya. Bagi Rega, hanya bersama Arinlah satu-satunya saat dimana ia bisa merasa dunianya begitu terang juga berwarna. Baginya, Arin adalah pelita dalam hidupnya yang gelap.
Sepulang sekolah, seperti biasanya, Arin langsung mencari Rega yang pasti sedang duduk ditaman.
“Rasanya baru kemarin kita duduk disini, main dokter-dokteran!” di halaman yang tampak dari tempat Rega duduk terlihat beberapa orang anank-anak asuh lainnya sedang bermain. Dan Arin jadi teringat kala ia masih seusia mereka. Sejak kecil ia memang bercita-cita ingin menjadi dokter. Harapannya hanya satu, ia ingin menyembuhkan Rega.
“Itukan udah beberapa tahun yang lalu. Kamu gak bantu Ibu di dapur?” Rega meraba-raba tas yang diletakkan Arin disampingnya.
“Males. Kan aku mau nemenin kamu.”
“Kamu ini. Bukannya setiap hari kaamu juga udah nemenin aku? Gak bosen?”
“Gak akan. Aku gak akan bosen nemenin kamu. Aku akan selalu sama-sama kamu.” Ucap gadis itu manja sambil merangkul Rega. Pemuda itu hanya diam sambil tersenyum.
“Kamu gak akan ninggalin aku kan?” tanya Rega serius.
“Iya dong. Aku janji gak akan ninggalin kamu.” Dengan gemas Arin lalu memeluk lengan Rega seperti yang biasa dilakukannya.
Namun sayang, janji itu hanya tinggal janji. Keesokan harinya, Arin dipanggil oleh pengurus panti, Bu Putri untuk menghadap keruangannya.
“Apa yng ibu mau bicarain?” tanya Arin penasaran. Biasanya kalau sudah dipanggil keruangan seperti ini pasti ada hal penting yang harus dibicarakan.
“Besok ada sepasang suami istri yang ingin menemui kamu.” tanpa basa basi Bu Putri langsung mengarah kepokok pembicaraan.
“Maksud ibu, mereka mau mengadopsi saya? Apa saya gak ketuaan, bu? Kan masih ada Ria, Windy, Tommy, yang jelas lebih muda dari saya.”
“Mereka itu orang tua kandungmu, Rin. Apa kamu tidak mau menemui mereka?” Arin langsung terdiam ketika Bu Putri mengatakan hal itu. Ia tidak tahu harus berkata apa.
“Kemarin mereka datang kemari, dan memperlihatkan semua bukti-bukti yang mengatakan kalau kamu memang benar-benar anak kandung mereka.”
“Gak mungkin...!!!” pekik Arin tertahan. Ia masih tidak percaya dengan hal ini. Ia merasa benar-banar tidak siap untuk mendengar hal ini. Terlebih, untuk berpisah dari Rega.
“Mereka memperlihatkan akta kelahiran dan foto kamu waktu kamu berusia 11 bulan.” Bu Putri memperlihatkan akta kelahiran dan sebuah foto kepada Arin. Dan memang dialah bayi yang ada difoto itu.
“Mereka itu orang tua kandungmu. Mereka orang tua yang selama 16 tahun ini tidak pernah putus asa untuk mencari kamu. Kamu sekarang sudah dewasa, dan ibu yakin kamu bisa mengerti.” Tanpa tahu harus berkata apa-apa, Arin beranjak meninggalkan ruangan itu dan air mata yang sejak tadi berusaha ditahannya.
Esoknya, seperti yang dikatakan Bu Putri kemarin, sepasang suami istri tiba di panti asuhan Kasih Ibu. Arin tahu mereka sudahdatang, tapi ia masih belum siap bila harus bertemu mereka sekarang.
“Kamu lagi punya masalah, ya Rin?” seperti biasa, ia lebih memilih menemani Rega duduk di taman. Sejak tadi ia terus diam dan rupanya Rega tahu ada masalah yang sedang dia sembunyikan.
“Kamu tau, Ga?” tanya Arin lemas. Karena memikirkan masalah itu, ia tidak tidur semalaman.
“Aku udah kenal kamu berapa lama sih Rin? Jelas aku tau lah kalau kamu itu sedang lagi ada masalah. Cerita dong,”
“Gak ada masalah apa-apa kok. Aku lagi capek aja,”
“Yang benar?”
“Iya. Hmmm.....” Arin hampir mengatakannya tapi ia terlanjur malihat Bu Putri datang menghampiri mereka.
“Rega, ibu pinjam Arinnya ya. Ada yang mau ibu bicarain sama dia,” Rega hanya mengangguk. Lantas Bu Putri segera menggandeng tangan Arin dan mengajaknya pergi meninggalkan Rega.
Arin merasa asing dengan dua orang yang berdiri di depannya. Begitu melihatnya masuk bersama Bu Putri beberapa saat yang lalu, mereka langsung menghambur memeluknya.
“Karina, anakku! Ya Tuhan, kamu sudah sebesar ini nak,!” ucap haru wanita yang masih memeluknya dengan erat.
“Kamu masih memakai kalung ini,” wanita itu melepaskan pelukannya dari Arin dan menatap kalung yang dikenakan oleh gadis itu. Ia memegang liontin kalung itu yang terbuat dari batu giok yang berbentuk tetesan air yang didalamnya bertuliskan nama Karina. ”Kalung ini adalah kalung yang mama berikan kekamu waktu kamu baru lahir, sayang.”
“Kami kemari untuk menjemput kamu. Kamu akan tinggal bersama kami.” Lelaki yang terlihat bijaksana, yang sejak tadi hanya diam turut bicara.
“Saya tidak mengenal kalian dan saya tidak akan mau tinggal dengan orang yang tidak saya kenal.” ucap Arin dingin, nampak sekali kalau ia tidak suka dengan kedatangan mereka.
“Kami akan jelaskan semuanya sama kamu.”
Dan akhirnya Arin mengerti kalau selama ini ia telah salah menilai kedua orang tuanya. Ia salah kalau mengira kedua orang tuanya tidak menyayanginya dan malah membuangnya ke panti asuhan. Yang sebenarnya terjadi adalah kakeknya tidak menyetujui pernikahan orang tua Arin. Dan ketika ia mengetahui bahwa telah lahir seorang anak dari rahim wanita yang tidak ia inginkan, maka iapun membuang bayi yang tidak berdosa itu. Dan tanpa putus asa mereka berusaha mencari anak mereka dan akhirnya usaha itu tidak sia-sia.
Hari ini juga Arin akan ikut pulang bersama orang tuanya. Sekarang ia sedang membereskan semua barang-barangnya.
“Kamu ternyata disini, Rin. Aku tungguin dari tadi di taman, kamu nggak muncul-muncul.” nampak Rega sudah berdiri diambang pintu membuat Arin terkejut melihatnya.
“Maafin aku, Ga....” Rega seakan meruntuhkan tekad Arin untuk pergi dari panti.
“Kamu mau kemana?” ia ikut duduk ditempat tidur Arin dan meraba-raba pakaian yang siap dimasukkan gadis itu kedalam koper.
“Aku...aku...”Arin tidak bisa melanjutkan kata-katanya karena bibirnya terasa kelu. Ia tidak tega harus meninggalkan Rega yang begitu tulus mengharapkannya.
“Kamu mau ninggalin aku kan Rin?”
“Maafin aku Ga. Ada sepasang suami istri yang menungguku di luar. Mereka orang tua kandungku.” ucap Arin akhirnya.
“Kamu kan udah janji nggak akan ninggalin aku disini. Kamu bohong, Rin.” Arin tidak dapat membalas ucapan Rega itu. Ia hanya menangis sambil menatapnya.
“aku gak akan lupain kamu kok.Kita akn tetap bersama selamanya. Walau itu cuma....ini,”Arin menempelkan telapak tangannya didada Rega dan lantas memeluknya dengan erat seakan hanya ini satu-satunya kesempatan untuk memeluknya.
Rega mengiringi kepergian Arin. Ia mengantar gadis itu sampai ke mobil.
“Aku janji bakalan sering kesini.” Arin yang sudah di dalam mobil memegang jemari Rega yang masih berdiri di sisi jendela mobil.
“Aku berharap saat hujan reda, kamu ada disampingku supaya kita bisa lihat pelangi sama-sama lagi.” Sahut Rega, dan setelah itu Arin benar-banar pergi meninggalkannya.
Perlahan, Rega berjalan menyusuri jalan setapak yang sering lalui bersama Arin, dengan tongkatnya. Setiap satu langkah, iapun seakan mengulan kembali satu kenangannya bersama Arin. Akhirnya ia sampai di bangku tempat ia biasa duduk. Ia meraba-raba bangku itu dan menemukan setangkai bunga di sana.
“Aku nggak tahu apakah bunga ini benar-benar bunga mawar outih atau nggak. Tapi yang aku tahu bahasa bunga mawar putih adalah.....cinta suci. Sesuci cintaku untuk kamu,” tidak ada yang Rega sembunyikan dari Arin, kecuali hal ini. Entah sejak kapan ia mulai merasa bahwa ia jatuh cinta pada Arin. Gadis itu adalah segala-galanya dalam hidunya, yang bagi Rega sendiri, tidak berharga ini.
Hanya satu bulan waktu yang dibutuhkan Arin untuk benar-benar menyesuaikan diri dengan kehidupan yang sekarang. Namun, bukan berarti ia merubah semuanya. Walupun kini hidupnya serba berkecukupan, hal itu tidak merubahnya menjadi sombong. Ia masih tetap rajin mengunjungi Rega juga saudara-saudaranya di panti asuhan. Walau jarak dari rumahnya ke panti cukup jauh, itu tidak menyurutkan niatnya untuk menemui mereka.
“Kamu nggak sekolah hari ini? Kok jam segini udah kemari?” tanya Rega ketika ia dan Arin dudu-duduk di tempat favorit mereka, taman.
“Gurunya lagi ada rapat, jadi kita-kita pulangnya cepet deh!” sepulang dari sekolah Arin langsung meminta sopirnya untuk diantar ke panti.
“Kamu bahagia tinggal sama mereka?” pertanyaan itu terasa sedikit aneh ditelinga Arin apalagi melihat raut wajah Rega yang terlihat sedih.
“Bahagia dong! Kan sama orang tua sendiri. Tapi, gak kalah bahagianya sama tinggal disini.”
“Syukurlah kalau kamu bahagia tinggal disana.”
“Aku akuin sih....aku juga merasa kesepian. Walaupun semuanya serba tersedia disana, tetap aja aku sering rindu sama panti. Kangen sama suara ributnya anak-anak atau rebutan makanan di meja makan. Dan yang paling aku kangenin ya, kamu.” Rega mengusap punggung Arin yang kini sudah memeluk pinggangnya seperti yang gadis itu sering lakukan. “Kemarin aku liat pelangi diteras rumah,”
“Kemarin, waktu hujan reda,aku duduk disini melihat pelangi. Sama sepertiyang kamu lihat. Wlau sebenarnya aku nggak yakin pelangi itu benar-benar ada atau ngaak. Yang jelas, aku berharap kamu ada disampingku, berteriak kalau pelanginya sudah muncul.” sahut Rega pelan tanpa tahu bagaimana ekspresi wajah Arin katika mendengarnya mengatakan hal itu. Tanpa ia sadari perkataannya itu selalu terpikirkan oleh Arin bahkan sampai gadis itu pulang kembali kerumahnya.
Mawar putih yang dulu berniat Rega berikan pada Arin kini masih ia simpan walau bunga itu sudah layu dan mengering. Rega berniat menyatakan perasaannya pada Arin. Ia tidak berharap gadis itu akanmenerima cintanya, baginya yeng terpenting adalah Arin mengetahui perasaannya.Namun sayang,tekad yang tadinya telah bulat, seakan mulai memudar karena sudah beberapa bulan ini gadis itu tak pernah mengunjinginya lagi di panti. Sudah beberapa kali ia mencoba menelepon kerumahnya, tapi tidak pernah sekalipun ia bisa berbicara dengannya. Mereka selalu beralasan, bahwa Arin sedang sibuk mempersiapkan ujian akhir yang tinggal beberapa minggu lagi. Rega mulai putus asa, ia hanya berharap setelah selesai ujian, Arin akan kembali mengunjunginya.
Setelah benar-benar bosan terus menunggu Arin, akhirnya Rega memutuskan untuk mengunjungi gadis itu dirumahnya. Dengan berbekal alamat yang dicatatkan oleh Bu Putri dan dengan ditemani Adi, adiknya di panti, iapun pergi kesana.
“Mau cari siapa?” tanya satpam begitu mereka baru tiba di dapan gerbang.
“Kita-kita mau nyari Arin,” sahut Adi.
“Oh maksudnya non Karina? tunggu disini sebentar, ya. Saya lihat dulu,” setelah mengatakannya, satpam itu lalu bergegas masuk ke dalam rumah.
Tak lama kemudian,
“Maaf, Non Karinanya lagi pergi tuh,”
“Pergi kemana? Apa sudah lama?” tanya Rega tak sabar.
“Wah, saya kurang tahu, soalnya saya juga baru datang.”
“Kami nunggu disini saja, Pak.”
“Mendingan kalian kemari lagi nanti. Non Karina kalau pergi suka lama.”
“Kami nunggu aja, sudah jauh-jauh kemari.” Tanpa meminta persetujuan satpam itu, Rega dan Adi duduk menunggu di depan pagar.
Sementara itu di dalam rumah,
“Sudah satu jam kamu disini, apa kamu hanya mau melihat dari sini saja? Temui dia,” seorang wanita muda berseragam serba putih menghampiri Arin yang sejak tadi duduk memandangi Rega dibawah sana melalui jendela kamarnya.
“Aku takut,” jawabnya pelan.
“Kenapa harus takut? Kamu seharusnya tidak menghindar seperti ini, Toh, dia tidak akan melihat keadaan kamu. Dia tidak akan menyadarinya asalkan kamu bisa bersikap seperti biasa,”
“Dia itu udah kenal aku dari kecil, dia selalu tahu jika ada perubahan dalam diri aku. Dia pasti sedih kalau tahu keadaanku sekarang,”
“Dia malah akan lebih sedih kalau tahu hal ini dari orang lain. Temui dia,dan ceritakan semuanya dengan jujur. Dia pasti akan mengerti dengan keadaan kamu sekarang.” seakan mengerti, wanita itu lalu meninggalkan Arin sendirian agar gadis itu bisa memikirkan apa yang baru saja ia katakan.
Rega bingung sendiri ketika satpam yang tadi mengatakan bahwa Arin tidak ada dirumah, malah menuntunnya ke taman.
“Kamu ada disini kan Rin?” Rega yakin Arin pasti ada didekatnya.
“Aku disini,” begitu mendengar suara yang sangat ia rindukan, Rega langsung berusaha untuk menemukan sosoknya.
“Kemana saja kamu selama ini?” akhirnya ia menemukan Arin. Gadis itu duduk diatas hamparan rumput yang menghijau.
“Maafin aku, ya karena udah buat kamu bingung. Aku bakal jujur deh sama kamu,” dan akhirnya Arin menceritakan apa yang terjadi padanya beberapa bulan belakangan ini.
Awalnya ia mengira hanya sakit kepala biasa. Dan sakit itu sebenarnya sudah ada sejak ia masih tinggal dipanti. Tapi beberapa bulan yang lalu sakit itu semakin menjadi dan kedua orang tuanya membawa Arin ke rumah sakit. Dokter mengatakan ada tumor yang bersarang diotaknya. Dan penyakit itu sudah terlanjur parah. Kalau dioperasi, kemungkinan berhasilnya sangat kecil. Dan Arin lebih memilih menunggu waktunya yang hanya sedikit. Semakin hari semangat hidupnnya semakin memudar seiring dengan tubuhnya yang semakin melemah.
“Sebenarnya arti aku bagi kamu itu apa? Terus terang aku kecewa sama kamu,” ucap Rega sedih begitu mendengar semua penjelasan Arin. Baru kali iniia terlihat semarah ini. Tampak sekali kekecewaan dimatanya yang berwarna kelam.
“Bukan maksud aku begitu, aku cuma nggak mau kamu sedih.” Arin langsung memeluk Rega. Ia tidak mau dibenci olehnya.
“Jelas aku sedih kalau dengar kamu sakit, tapi aku lebih sedih kalau aku harus tiba-tiba kehilangan kamu tanpa tahu apa yang sebenarnya terjadi sama kamu.” Rega tidak pernah bisa benar-benar marah pada Arin. Ia terlalu menyayangi gadis itu.
“Sekali lagi, maafin aku, ya. Kamu mau kan?”
“Kamu nggak perlu minta maaf. Yang penting sekarang kamu ada disini,”
“Kamu bakal terus ada disampingku kan, sampai aku......” tanpa perlu Arin lanjutkan pun Rega tahu apa yang akan Arin ucapkan. Ia hanya mengangguk pasrah.
Sejak hari itu, Rega selau rajin mengunjungi Arin dirumahnya. Berkat kehadiran Rega, keadaan Arinpun menjadi lebih baik dan semangat hidupnya mulai kembali lagi.
“Pa, mama udah memikirkan permintaan Karina tadi malam.” orang tua Arin sedang memperhatikan putri mereka yang sedang bercanda dengan Rega di halaman belakang.
“Papa rasa kita harus mengabulkan keinginannya itu, ma.”
“Rega anak yang baik. Ia sangat menyayangi Karina. Dia rela berjam-jam hanya untuk menemani Karina. Dan ia juga merawat Karina dengan baik meski gerakannya terbatas oleh kekurangan fisiknya. Tapi....rasanya mama tidak rela kalau harus melakukan hal itu. Kalau permintaan yang satunya sih mama sangat senang mengabulkannya.”
“Kita bersalah pada Karina. Baru sebentar ia merasakan kebahagiaan, kini ia sudah harus menderita lagi. Papa hanya ingin mengabulkan permintaannya. Kalua dia saja bisamemberikannya dengan ikhlas, kenapa kita tidak?:
Rega terbangun oleh suara serak Arin yang memanggilnya. Rupanya ia haus dan ingin Rega mengambilkan air untuknya. Sudah semunggu ini kondisi Arin memburuk dan ia harus kembali terbaring lemah di rumah sakit. Dan selama itu dengan setia Rega menemaninya disana.
“Aku punya sesuatu buat kamu,” setelah membantu Arin minum, Rega mengambil sesuatu dari dalam tasnya. Ia menyerahkan kotak yang anyaman kulit kayu berbentuk persegi panjang pada gadis itu.
“Wah.....bunga kering. Bagus banget! Makasih ya,” ucap Arin pelan.
“Harusnya aku kasih bunga itu kekamu waktu bunga itu masih segar.”
“Maksudnya,”
“Aku pernah berniat nagsih bunga itu kekamu sebagai......wujud perasaan aku kekamu. Tapi ternyata hari itu kamu malah pergi,” entah keberanian dari mana, Regapun akhirnya menyampaikan perasaan yang telah lama ia pendam. “aku sayang sama kamu,”
“Kamu gak perlu jawab pernyataanku barusan. Aku cuma pengen kamu tahu perasaanku,” seperti yang dikatakan Rega, Arinpun hanya diam. Ia tidak percaya dengan apa yang baru saj ia dengar. Lidahnya terasa kelu, tak ada kata yang mampu keluar dari bibirnya.
Tak ada yang berubah setelah Rega menyatakan perasaannya pada Arin. Ia masih tetap rajin menemani gadis itu setiap hari. Dan Arinpun juga bersikap biasa kepadanya.
“Kamu nggak apa-apa kan Rin?” begitu dinyatakan bahwa ia boleh pulang dari rumah sakit, Arin langsung minta diajak oleh Rega kesuatu tempat.
“Iya. Aku baik-baik aja.” bahkan Arin masih mengenakan baju dari rumah sakit karena ia sangat tidak sabar untuk pergi ketempat itu.
“Kita kan bisa kesananya besok-besok aja, apalagi sekarang sedang hujan lebat. Aku takut ada apa-apa sama kamu,” ucap Rega khawatir, ia terpaksa mengabulkan permintaan Arin karena gadis itu sampai memohon sambil menangis padanya.
“Mudah-mudahan, waktu kita tiba disana, ujannya udah reda. Dan kita bisa liat pelangi,” harap Arin seraya menyender didada bidang Rega.
Harapan Arin rupanya tercapai, begitu mereka tiba di panti, hujan sudah reda. Tanpa menunggu waktu lama, mereka segera menuju taman.
“Pelanginya udah muncul,” pekik Arin riang walau tubuhnya masih lemah. Rasanya sudah lama ia tidak sesenang ini.“Kalau liat pelangi dari sini rasanya paling bagus, deh.”
“Pelangi itu kayak kita kan Ga? Kamu pelanginya, dan aku warnanya.” bisiknya
“Benar juga, kamu telah memberi warna dalam hidupku. Walau seumur hidup aku nggak pernah liat warna, yang aku tahu hanya gelap.”
“Kamu mau mengingat sesuatu?” tanya Arin seraya menggenggamjemari Rega.
“Kamu mau aku mengingat apa?”
“Wajahku. Coba pegang kening....alis....mata....hidung....pipi....bibir......kamu bisa mengingatnya kan?” Arin menggerakkan jemari Rega disetiap inci wajhnya.
“Kamu pasti cantik. Alis kamu rapi, bhidung kamu mancung, dan bibir kamu juga mungil.” puji Rega.
“Salah. Aku jelek. Mataku cekung, pipiku tirus, bibirku juga pecah-pecah.”
“Itu karena kamu sakit. Suatu hari aku akan liat wajah kamu yang cantik.” Arin tida menghiraukan kata-kata Rega. Ia malah sibuk menyeka darah yang menetes dari hidungnya.
Tuhan, aku tahu bahwa hanya Kau yang berhak atas hidupku ini. Engkau yang menentukan takdir untukku. Aku telah siap jika Kau ingin memanggilku sekarang. Aku telah meninggalkan yang terbaik untuknya. Aku hanya ingin ia bahagia. Jika Engkau ingin mengambil nafasku sekarang, aku rela....
“Disini dingin, kamu mau kan meluk aku?” pinta Arin dengan mata setengah menutup.
“Kita masuk kedalam aja, ya.” Rega sangat khawatir dengan kondisi tubuh Arin yang semakin melemah. Iapun memeluknya dengan erat.
“Biarin aku tetap disini dulu, ya.” ia hanya berusaha untuk memenuhi keinginan Arin. Karena Rega tahu ini mungkin saja adalah permintaan terakhir gadis itu. Ia membelai lembut tubuh Arin, merasakan tubuhnya yang hangat.
“Kamu capek, ya?” tanyanya pelan.
“Hmmm....” gumam Arin lemah.
“Tidurlah,” Ucapnya kemudian dengan air mata yang siap menitikdikedua matanya. Bersamaan dengan air mata yang jatuh ditangan Arin, tangan yang mencengkram lengannya itupun jatuh terkulai tak berdaya.
“Selamat jalan sahabatku....kini aku telah benar-benar seperti pelangi tanpa warna.”
Sebuah suara ceria seakan menjadi pemecah keheningan disuatu pagi buta,
“Jangan murung gitu dong!!! Kan sekarang kamu udah bisa liat tampangku yang cantik ini,” tampak Arin sedang memaju-majukan wajahnya didepan Rega.Entah sudah berapa kali Rega memutar kembali rekaman video yang ditinggalkan Arin untuknya. Sebenarnya bukan hanya itu yang ditinggalkan gadis itu untuknya. Arin telah memberikannya kornea mata dan sebuah keluarga untuknya. Sudah hampir enam tahun Rega sah menjadi putra kedua orang tua Arin.
“Aku Cuma ingin satu kata dari kamu. Bahagia. Kamu bahagia kan?”
“Kamu adalah segalanya bagi aku. Aku mau kamu selalu bahagia. Walau aku udah gak ada disamping kamu, tapi aku ada dalam diri kamu. Kan kita ini pelangi sama warnanya?”
“Oh iya, aku masih hutang satu kalimat sama kamu. Kamu ingat, waktu kamu ungkapin perasaan kamu sama aku. Walau waktu itu kamu bilang kalau kamu gak butuh jawaban, tapi aku tau kamu juga pengen kan? Aku juga sayang sama kamu. Karena kamu adalah segala-galanya dalam hidupku.”
Rega menekan tombol off pada remote control yang ia pegang, dan wajah Arinpun menghilang dari layar televisi. Ia segera mengambil koper-kopernya. Ia harus segera tiba di bandara, karena pesawat yang akan membawanya kembali ke Indonesia segera berangkat. Kini ia siap pulang untuk membantu orangtua angkatnya mengelola perusahaan mereka. Ia akan membalas budi baik mereka juga Arin yang telah memberikan kehidupan yang sangat sempurna untuknya. Itulah janji hidupnya yang harus ia tepati.
****
HBNS.DHA-BEIY 2010
Tidak ada komentar:
Posting Komentar