19 November 2008

DIANTARA PERANG PAMOR ( PAK TUA PENJUAL MAINAN )



“Dipilih, dipilih, dipilih, sayang anak, sayang anak,” kata - kata tersebut dari lisan seorang pak Tua penjual mainan, yang dari pagi hingga matahari tenggelam, menjajakan barang dagangannya, mencoba meraih mimpi meski tak setinggi bintang, demi sesuap nasi dan sehelai harapan, tak jauh darinya berdiri terpampang poster beragam ukurang disepanjang jalan dari partai A sampai Z yang mempromosikan para caleg mereka, bahkan lengkap dengan slogan, jas serta dasi dan senyum sumringah yang sedikit dipaksakan serta titel akademisnya, penulis tersenyum tatkala dalam pikiran penulis mulai bertualang menerobos batas kenyataan dengan memutar balikkan keadaan, membayangkan mereka yang ada dalam foto tersebut menjajakan diri seperti yang dilakoni oleh pak Tua tadi, . . deg – deg jantung penulis pun mulai mempercepat ritmenya guna memompa suplay darah menuju otak, karena otak penulis yang terbatas ilmunya ini mulai berpikir dan menerawang masa depan.
Akankah mereka yang hari ini fotonya terpampang di jembatan, sepanjang jalan, tiang listrik dan tempat strategis lainnya ini akan konsisten dengan janjinya ketika mereka telah terpilih nantinya, akankah mereka bisa membantu saudara – saudara kita yang hari ini bukan hanya memajang foto di jalan melainkan mencari sesuap nasi di jalan, berjuan melawan nasib, diantara deru mesin kendaraan dan sibuknya aktivitas kota tercinta ini. Akh ( penulis menghela napas ) . . . sebagian mungkin berpikir ini kata – kata yang tajam, tapi bagi penulis ini adalah cambuk untuk mereka yang telah memutuskan dan menentukan sikap mengemban dan memperjuangkan aspirasi rakyat, nasib rakyat, agar sepenuhnya melaksanakan tugas , kewajiban dan tanggung jawab , untuk rakyat, untuk sesama, untuk Bangsa ini, bagi para calon caleg yang scara tidak sengaja membaca tulisan seorang pengangguran seperti saya dan merasa terganggu dengan tulisan ini, ketahuilah, . . . inilah seleksi alam, untuk yang kuat dan sanggup serta siap untuk berjuang sepenuh hati dan segenap jiwa raga, akal serta harta, maka majulah, tapi bagi yang masih setengah hati, ini saatnya mundur, ingatlah anda memegang tanggung jawab besar, dan itu akan dipertanggung jawabkan di dunia saja melainkan juga di akhirat. “Mang, Kesini,” suara halus seorang Ibu berusia sekitar 30 tahunan itu terdengar dari sebuah jendela mobil sedan mewah yang sedang berhenti di perempatan itu.
Dengan serta merta pak Tua menghampiri mobil tersebut, “ yang ini berapa Mang,” Ibu itu bertanya, “Rp 15.000,- Bu” sahut pak Tua, sejenak kemudian sang ibu menanyakan persetujuan model mainan itu kepada anaknya yang duduk di samping, kemudian mengambil selembar uang Rp. 50.000,- dari dalam tasnya, “wah kadada angsulannya Bu’ai,” kata pak Tua, “ambil aja gin Mang’ai,” sahut Ibu itu, “ah jang Bu, kebanyakan,” belum habis kata tersebut diucapkan oleh pak Tua, mobil tersebut mulai beranjak karena lampu lalu lintas sudah menunjukan warna hijau, “ terima kasih banyak Bu, semoga murah rezeki,” sambil setengah berteriak dan parau suara itu keluar dari lisan pak Tua, yang kemudian berkali – kali mengucap syukur kepada-Nya, . . . Penulis tertegun, orang dengan mobil semewah itu yang penulis sendiri belum pernah terpikir untuk bisa membelinya, mau membeli mainan dari seorang penjaja mainan Tua, di perempatan jalan, bukan di mall atau pusat perbelanjaan sekelas orang – orang “sugih”, peristiwa yang langka, namun penuh arti, penulis mengerti pantaslah bahwa si Ibu tersebut bisa menjadi seorang yang kaya dengan harta yang melimpah selain dari usaha ikhtiarnya dia adalah orang yang peduli terhadap orang disekitarnya, maka jiwa sosialnya telah menjadi “mesin uang” dari Sang Pencipta yang terus menerus mencetak rezeki untuknya. Beruntunglah Kota ini bila banyak memiliki orang – orang seperti Ibu tersebut. Akhirnya penulis terpaksa kembali menutup cerita ini denagn sebuah tanda titik dan penulis pun kembali lagi menjadi seorang pengangguran.

Alhamdulillah, Terima Kasih ya Allah kau telah banyak karuniakan Nikmat - Mu padaku

7 komentar:

  1. mantabh postingannya bos!.. ibu itu pasti sama kayak saya, habis ngasih itu bilang dalam hati ato ama orang diseblahnya "santai ja duitku ni banyak banar, milyaran labih, tagal datangnya banarai bagimitan takana sabulan datang ja saratus ribu takana sajuta, kada masti jua."

    BalasHapus
  2. manteb bro postingannya alur tulisan sejalan dengan isi....btw jangan terlalu sering menerawang di jalan, bahaya....wkkk...wkkk...

    BalasHapus
  3. postingannya bagus,
    salut buat ibu yg beli dan bapak yg jualan itu,
    ah, salut bener. uga buat yg nulis :D
    tapi setingannya bikin puyeng,
    kasis spasi, titik koma dan jarak yg agak enakan dikit dong, bro
    OK :)

    BalasHapus
  4. He he sorry2 klo bkin puyeng

    BalasHapus
  5. Pengangguran ni ye...

    BalasHapus
  6. wuiiii
    ada amor baguguran...

    BalasHapus
  7. @ randualamsyah : ia noh... hehehe , lagi berusaha jadi enterpreneur

    @ ..:: Zian X-Fly ::.. : buah kali berguguran :))

    BalasHapus